Say What U Mean, Mean What U Say ~Have A Clarity of Mind~

On last Friday, I was leading a game in the cell group meeting. For those of you who are Christians, you must’ve known what a cell group is. 🙂

The title of the games was “Siapa Mia?” (Eng: Who is Mia?).

It was actually a games of questions, so it requires your brain to arrange questions that must relate to Mia.

There were some who found difficulty in asking questions; sometimes they have it in mind but they just couldn’t say it out; or at some other times they said words but the words just couldn’t rhyme with the idea. Haha! We had lots of fun!

Unfortunately, I couldn’t attach the complete video’s file as it is not compatible in WordPress site. But you could just go to my Face Book wall to find the sneak peak version video.

Importantly, it reminds me to a lesson of life: listening is a skill that need to be trained. The expert you are, the deeper the clarity will be. 🙂

 


Hidup di jaman serba cepat ini membuat kita cenderung lebih cepat berucap ketimbang mendengar. Teramat sering saya mendengar seseorang melontarkan permintaan maaf sebagai bentuk ralat dari perkataan yang terlanjur diucapkan; misalnya:

“So sorry, I didn’t mean to say it; Sorry, I didn’t mean to hurt you; No, what I meant was ,,, .”

What stays in the heart will be reflected through out our mouths.

 

Perkataan seseorang merupakan salah satu point yang pasti saya nilai dalam relationship. Untuk saya pribadi, hal tersebut crucial, meskipun bukan satu-satunya instrument untuk menilai personality seseorang.

Pemilihan kata, cara bicara, nada bicara adalah 3 hal pokok yang menurut saya mudah dinilai.

Kalau kosakatanya jorok, bisa dipastikan 75% isi pikirannya nggak jauh-jauh dari situ.

Cara bicara seseorang merupakan cermin keseharian ybs. Kalau cara ngomongnya kasar dan semrawut, ya begitulah kecenderungannya. Kalau banyak pauses dan bola mata jelalatan nggak fokus, kesehariannya nggak akan jauh-jauh dari situ.

Nggak percaya? Coba mulai amati teman-teman anda saat mereka bicara, jangan lupa minta mereka mengamati anda juga. 🙂

 

Saya sama sekali tidak hendak menghakimi siapapun.

Uraian di atas adalah bagian dari pengalaman hidup saya.

Sebagai seorang gadis Jawa, saya memiliki nature lemah lembut dalam bersikap dan berbicara. Saya jarang menaikkan nada suara ketika bicara.

Apakah itu berarti saya sudah berbicara dengan benar? Sama sekali belum.

 

Nada bicara saya memang lemah lembut, akan tetapi diksi yang saya gunakan buruk, ketus, pedas dan menusuk lawan bicara. Hal itu membuat lawan bicara saya merasa terintimidasi.

Saat berbicara, bola mata saya nggak jelalatan kemana-mana, saya juga punya gesture meyakinkan, saya fokus terhadap lawan bicara.

Sebenarnya, 2 point terakhir adalah kelebihan saya, tapi karena nada bicara yang buruk, lawan bicara malah makin terintimidasi oleh perkataan saya.

Lama- kelamaan, mereka jadi enggan berbicara dengan saya. Bahkan ketika saya hanya diam pun, mereka sudah terintimidasi.

Saya sering memenangkan debat di kelas, apalagi saya sangat yakin dengan kebenaran materi yang saya paparkan.

Tapi saya nggak punya teman saat recess dan hampir nggak ada yang mau dekat dengan saya.

That was me back in 10-12 years ago and I was judged by the way I spoke. 🙂

 

Dulu, saya nggak bisa mengerti kenapa perkataan/ cara bicara bisa dipakai untuk menilai kepribadian seseorang.

Dulu, saya termasuk orang yang percaya second opinion bahwa, “Mulutnya nggak sejahat hatinya kok”.

Dulu saya pun percaya bahwa, “Muka boleh Rambo, tapi hati tetap Rinto”.

Dulu, saya juga termasuk golongan yang berlidung pada jargon, “Kebebasan berbicara”.

But now, I can even laugh at those stupid opinions. LOL.

 

“For a tree known by its fruit”, Matthew 12: 33. 

 

Enggak bisa lebih jelas lagi bro, pohon yang dirawat dengan benar akan menghasilkan buah yang gemuk dan manis.

Pohon mangga akan berbuah mangga, pohon apel akan berbuah apel, pohon kelapa akan berbuah kelapa.

Kualitas buah ditentukan oleh intensitas perawatan pohon.

 

Nah, saya di masa lalu adalah pohon mangga yang berbuah kelapa, alias merasa paling benar sedunia.

Saya merasa yakin bahwa saya berbuah mangga, akan tetapi orang- orang di sekitar saya melihatnya sebagai sebutir kelapa.

Saya merasa berkulit tipis, sedangkan mereka jelas-jelas harus bersusah payah mengupas sabut yang mengelilingi saya.

Saya merasa menaruh biji di dalam daging buah, sedangkan mereka jelas- jelas harus memakai bendo untuk memecahkan batok sebelum menikmati buah saya.

Saya merasa berwarna kuning keemasan, sedangkan mereka dengan jelas melihat bahwa daging buah saya berwarna putih dengan kulit warna coklat.

Saya merasa bisa disajikan sebagai rujak dan komponen cocktail, tetapi mereka selalu memarut dan memeras saya hanya sebagai santan.

 

See, orang yang sering berkata-kata buruk tetapi merasa hatinya baik nggak ada bedanya dengan analogi di atas.

Orang yang bersikap selebor tetapi keukeuh bahwa dia adalah pribadi yang bertanggung jawab,

orang- orang yang berpakaian semaunya tanpa menyadari bahwa product = content + packaging,

orang- orang yang mengambil keputusan menurut kebutuhan pribadi tanpa mengingat bagian-bagian lain dalam hidupnya,

orang-orang yang bersikap seolah mereka adalah pribadi yang memiliki free will tanpa berpikir bahwa orang lain juga punya freedom untuk menilai.

Sekali lagi, saya tidak sedang menghakimi siapapun, ini adalah penggalan pengalaman dalam hidup yang saya jadikan pelajaran berharga.

 

The heart connects to the brain, the mouth releases what’s been proceed in the brain.

It applies to those decisions we have made as well as our actions .

So it’s clear, that heart is the source of everything we do.

 

If your heart cleans, so does your brain.

When your heart clears, your brain aims to good things. 

That is when you can have clarity in mind to be spoken and right actions to do. 

 

Sekarang, saya sudah lebih baik dalam berbicara. Saya nggak sesantun Mario Teguh sih, tapi saya nggak sengawur Ruhut Sitompul juga hahaha. *Oopss,,,*

Saya masih membuat kesalahan diksi saat berbicara, tapi paling nggak saya berusaha jujur kepada hati nurani.

Saya masih merasa perlu menegaskan nada untuk point-point tertentu, supaya lawan bicara menangkap the main concern of mine. 

Beberapa core values yang saya anggap penting masih tetap saya pertahankan sampai sekarang, karena saya tahu dasar kebenarannya.

Saya mikir sebelum ngomong dan bukan sebaliknya.

Saya tidak lagi ngeyel ora nggugu. 

 

Ada baiknya kita mikir dulu sebelum ngomong.

Mungkin perlu mikir lebih lama sebelum memutuskan sesuatu.

Perlu juga mikir dua kali sebelum mengambil sikap.

 

Kita hidup nggak sendiri, men.

Ada orang- orang yang akan terkena dampak dari perkataan, keputusan maupun sikap yang kita ambil.

Dampaknya bisa baik atau buruk, bisa benefit atau hurt, bisa mendekatkan atau malah sebaliknya.

Apapun itu, sebaiknya pastikan diri sendiri jujur dan siap dengan konsekuensinya.

Semua dimulai dari diri sendiri. 🙂

 

Sayapun perlu pikiran yang jernih untuk menyelesaikan sebuah artikel. Kalau enggak, penjelasan saya bisa melebar kemana-mana. Pembaca dipastikan bingung. Kwuck.

 

“Listen to many, speak to a few”, William Shakespeare.

 2014-04-27 14.54.34

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s