Show Some Cares ~ Do It With Your Heart, Do It With Passion

Pemilu baru saja berakhir. Saya yakin anda pasti sudah nyoblos. Soal siapa yang dicoblos, itu urusan hati nurani masing- masing. 🙂

Berlalunya Pemilu tidak secara otomatis meredakan hiruk pikuk masyarakat. Justru sebaliknya, seisi negeri kini sedang ramai berceloteh tentang hasil hitung cepat kedua capres/ cawapres. 

Harus kita akui, bahwa Pemilu 2014 sangat berbeda dengan pemilu- pemilu di periode sebelumnya. Respon masyarakat dan media terhadap kedua kandidat jelas-jelas menunjukkan signifikansi – yang menurut saya – positif untuk keberlangsungan hidup bernegara. Rakyat bersedia berpartisipasi aktif memilih pemimpin, nggak sungkan- sungkan urun tenaga, pikiran, waktu dan uang, berarti Indonesia ada di democracy track yang benar. 

Semua ini bisa terwujud karena ada orang- orang yang menunjukkan kepedulian terhadap bangsa. Mereka menggulirkan bola energi ke komunitas- komunitas, sebelum akhirnya menghasilkan kebangkitan baru: People Power. 

 

Saya terbiasa melihat kepedulian yang dimanifestasikan melalui aksi-aksi seperti di atas. 

Sebut saja, @edwardsuhadi @reneCC @pandji @ernestprakasa @gilbhas bahkan @slankdotcom , mereka semua menyuarakan kepedulian sosial kepada publik, dengan variasi karya seni yang beragam. Itulah definisi peduli yang melekat di benak saya, paling tidak hingga seminggu yang lalu. 

 

***

 

Do you still remember the previous article about my friend who is a musician? He has successfully brought me to another point of view of showing some cares. 

Masih ingat bahwa dia seorang introvert tulen kan? 

Kecenderungannya untuk menyimpan dan mengerjakan semua sendiri, kadang membuat saya tidak mengerti; bukankah hidup tidak bisa solitaire? Kalau semua hanya disimpan dalam hati, bagaimana orang lain bisa terinspirasi oleh buah pikirnya yang brilliant itu?

 

Sambil lalu, saya sempat mengobservasi tingkat ketertarikannya terhadap bahasan politik yang sedang ramai dibicarakan di Indonesia; hasilnya mengecewakan. 😦

Saya utarakan ketidak setujuan saya dengan sikapnya yang saya anggap pasif. Saya melemparkan kasus pengesahan UU MD3 oleh DPR yang baru saja disahkan – secara diam-diam – di malam Pemilu, untuk melindungi jaringan oknum kotor di kursi pemerintahan. 

Hampir bisa saya pastikan, bahwa responnya nggak akan jauh-jauh dari “Hmm …” atau “Ooh …” atau “Oya?” sekedar basa-basi terhadap pertanyaan saya.

Diluar dugaan, ternyata dia mengetahui berita tersebut. Dan responnya adalah, 

“Tahu.”

“MD3 kan?”

“Sempet baca.”

 

Sekarang giliran saya “Oohh … .” :0’

 

Tapi saya nggak puas dengan cuma 1 topik bahasan. 

Obrolan berlanjut, dan dia berhasil mencerahkan pengertian saya tentang perbedaan power & wealth.

 

Selama ini, saya masih nggak bisa mengerti jalan pemikiran orang- orang yang berambisi besar menduduki kursi pemerintahan. Apa sih yang mereka cari? Ingin kaya? Kenapa nggak bisnis aja? Profitnya lebih jelas, dengan peluang korupsi yang nggak kecil juga. Kalau jaringan sudah kuat, pasti juga akan punya akses ke pemerintahan. Mau contoh? Tuh ARB. 

 

Teman saya bilang, “Beberapa orang ada yang merasa power lebih penting”. 

Dan menurut saya, itu mengerikan. Cos if they lose the battle, they can just do anything to revenge.

Oya, teman saya ini juga nggak asing dengan inisial tokoh semacam HT, dan tentunya JKW. Haha. 

Ternyata, teman saya ini, meskipun ansos, tetap mengikuti berita-berita di media. 

Ya ampun. Saya lupa, kalau dia bekerja di media surat kabar … *_*

 

Teman saya memiliki alasan tersendiri mengapa dia memilih untuk tidak banyak bicara di social media. Ia telah banyak melihat perubahan yang cenderung buruk ketika seseorang mulai terjun ke ranah politik. Asumsi wajar 🙂

Mungkin ia belum pernah menonton video ABW di bawah ini:

 

 

***

Ernest Prakasa, disalah satu tweetnya, mengatakan bahwa bangsa Indonesia akan jadi bangsa yang maju kalau masing-masing warganya menunjukkan kepedulian terhadap sesama. Bentuknya bisa beranekaragam. 

Musisi bisa menyuarakan kepeduliannya melalui lagu, penulis bisa menuangkan keresahan- keresahan sosialnya di media cetak ataupun online, fotografer bisa mengabadikan moment-moment penting dan bersejarah lewat jepretannya. 

Bahkan, dog lovers pun bisa memungut anjing jalanan untuk dibawa ke rumah dan dipelihara. 

Atau kalau anda sangat freak dengan kebersihan, sekedar memungut sampah dan membuangnya ke tempat sampah tidak akan menyita banyak waktu.

As simple as that. 

 

Saya pribadi nggak punya prestasi yang bombastis, justru teman yang sedang saya ceritakan inilah yang memiliki segudang kreasi hebat. Nggak habis meskipun sudah dikulik berhari-hari. Hahaha. 

 

Mengajar adalah satu- satunya skill yang saya banggakan; kasarnya, saya dicemplungin ke kelas model apa juga bisa, dikasih murid model apapun nggak masalah, bahkan dikasih parents yang hobi komplain- pun oke. Veni, vidi, vici. 

Seorang teman lain yang sangat mencintai dunia saham, aktif mem-posting update harga saham terbaru, juga nggak ketinggalan rutin menulis artikel perkiraan harga saham terkait dengan suhu politik di Indonesia. Namanya sering disebut di @pojoksaham dan @findonesia . Kalau ingin kenal lebih dekat, silahken colek si ahli saham di @ArghaJKaroKaro .

Wah, ternyata saya dikelilingi teman- teman keren.

 

Meminjam istilah @reneCC tentang obrolan santai; setelah beberapa kali ngobrol dengan si teman ini, saya menanggapi respon orang-orang dengan lebih jernih. Saya menginsyafi bahwa setiap pribadi punya panggilan hidup yang berbeda, dan itulah yang mereka hidupi dengan passion. 

 

Meminjam quote dari Hillsong Conference 2014, “You can not impart what you don’t have”. 

Aksi sekecil apapun, kalau didasari oleh motivasi yang jujur dan dilakukan sepenuh hati, pasti akan menimbulkan dampak.

Can’t even be truer than that. 

 

Kesimpulan saya adalah, saya nggak perlu merasa lebih nasionalis dari orang lain, hanya karena saya menghabiskan lebih banyak waktu untuk membaca dan menonton live streaming berita- berita politik. Hanya karena saya fans ABW, bukan berarti saya punya derajat nasionalisme yang lebih tinggi dari orang lain, karena sayapun masih senantiasa belajar memupuk semangat kecintaan terhadap tanah air. 

 

Saya memang bukan blogger ngetop; tapi kalau saya nunggu ngetop baru nge- blog, mau jadi apa saya?

Saya juga bukan pro – song writer; kenyataannya, notasi lagu pertama yg saya hasilkan tergolong kacau. Untung saya punya teman musisi yang baik hati 😀 

Tapi, saya kan nggak perlu setenar Sherina, hanya untuk membikin demo version, betul?

Saya juga nggak ngerti photography, tapi kalau sekedar meng-capture moment dan mem-post nya di socmed supaya bisa jadi sumber informasi untuk orang lain, rasanya saya bisa melakukannya. 

Saya nggak ngerti apa- apa soal video editing; tapi saya tahu, dengan Mac dan iPhone di tangan, saya bisa menghasilkan sesuatu yang bisa ditonton dan dinikmati orang lain.

 

“However, I believe that what comes from the heart, 

will also easily touch another heart”.

 

Aksi nggak perlu besar. 

In fact, segala sesuatu yang besar selalu diawali dari hal yang kecil. 

Kadang-kadang perlu diingat juga, bahwa quality is even more important than quantity. 

Ada banyak cara untuk mengekspresikan kepedulian bangsa, terlepas dari siapapun anda, berapapun usia anda, di manapun anda berada, dan apapun profesi yang sedang anda tekuni.

 

“Nationalism is an infantile disease. It is the measles of mankind” – Albert Einstein. 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s