Independence Brings Freedom ~ Friendship Shall Be Networkable And Bring Creations

frienship - freedom

Bulan ini kita merayakan Dirgahayu Republik Indonesia yang ke- 69. 

Secara pribadi, ada luapan emosi tersendiri menyambut ulang tahun kemerdekaan kali ini. 

Bisa jadi karena tahun ini bertepatan dengan Pilpres, atau mungkin kecintaan saya terhadap tanah air telah bertransformasi dan mengakar ke lubuk hati dan sanubari. #tsahhh

Sejujurnya, saya kangen rumah 🙂 

Saya kangen Indonesia 🙂 

 

Produk Indonesia, Produk Kemerdekaan 

Saya bersyukur, saya tidak perlu bersusah payah mengeyam pendidikan seperti kakek- nenek yang hidup dijaman penjajahan.

Saya bersyukur saya punya kesempatan mengejar dan mewujudkan mimpi tanpa issue gender. 

Saya  beryukur saya bebas memilih teman tanpa dibatasi suku, budaya dan agama. 

Saya bersyukur saya telah mengecap indahnya kemerdekaan Indonesia sejak lahir. 

Saya bangga berkulit sawo matang dan bermata belo. 

Saya bangga berdarah aseli Indonesia. 

And I believe that sense of belonging is contagious. 

***

Years ago, the word ‘friendship’ was something abstract to digest.

Saya baru benar-benar belajar berteman setelah memasuki dunia kerja. 

Seorang rekan kerja bernama Meilina Amelia adalah orang pertama yang menjadi ‘teman’ saya; 

Ia seorang Chinese dan berusia jauh lebih tua dari saya. Ia juga ibu dari dua orang anak yang saat itu usianya sudah remaja. Berkat Meilina, saya jadi tahu cara memasak Cap Cay yang benar dan sehat.

Beberapa tahun kemudian, saya bertemu dengan Marina Latuperissa. Pintar menyanyi dan pernah ikut audisi Indonesian Idol meskipun kurang berhasil 😀

Pertemanan saya dengan Marina menghantarkan saya bertemu Rynna Pong. Ditahun-tahun berikutnya, mereka adalah duo yang punya andil (sangat) besar dalam hidup saya.

Tahun 2010, saya menemukan seorang pria berdarah Jawa – Chinese di tempat kerja. Saya senang mendapati bahwa ia cukup ‘gila’ untuk berteman dengan saya. Bicaranya suka ngaco, tapi tepat sasaran. Tidak banyak yang bisa mengerti cara kami berkomunikasi, karena kami cenderung ‘riuh’ dan ‘bising’ ketika sedang brainstorming atau diskusi. 

Sumpah, kalau lagi main basket, dia keren banget! B-)

Nggak ada yang nggak teriak memanggil namanya kalau kebetulan berpapasan, “Mr. Ferven! Mr. Ferven!”. Teman saya yang satu ini memang friendly punya (cenderung tebar pesona sih -_-) dan sangat dicintai murid-murid di sekolah. 

Ferven dan istrinya banyak membantu persiapan keberangkatan saya ke Singapore. He is such a good buddy 🙂

 

“Ideally, friendship should be synergism and born new creations.” 

 

3-5 hari yang lalu, saya menghubungi beberapa teman. Mereka ini adalah teman-teman yang biasa saya ajak bertukar pendapat, karena mereka capable memberikan opini yang sehat, berimbang dan objektif.  Saya meminta kesediaan mereka berbagi pengalaman pribadi tentang hubungan pertemanan – persahabatan. 

Friendship adalah topik yang sifatnya universal sekaligus pribadi. Surprisingly, mereka nggak segan-segan menjawab sederet pertanyaan yang saya ajukan via WhatsApp. Wow, saya sangat takjub. Teman- teman saya sama sekali nggak jaim untuk buka- buka dapur 😀

Mereka punya cerita beragam perihal bersahabat. 

Mr. John sangat menjaga privacy. Ia percaya bahwa hukum kewajaran adalah hal mutlak dalam berteman. Artinya, segala sesuatu jangan sampai keterlaluan. Terlalu intim: jangan, terlalu blak-blakan: jangan. Tujuannya, supaya personal space masing- masing pemain tetap terjaga. Silahkan colek beliau di face book John Rocky Wien. 

Seorang teman muda bernama Jo Febrian telah membuktikan bahwa friendship adalah unconditional relationship yang dibangun dalam waktu yang tidak sebentar. Jo telah menemukan seseorang yang disebutnya sahabat sejak 5 tahun yang lalu.    

Ia mengakui bahwa kesabaran, ketulusan dan kepercayaan adalah bumbu pokok menjalin persahabatan.

Abeth – another friend of mine – fully believed that friendship is a lifelong journey, it should be focus on the quality instead of quantity. It is a growing relationship that include respect and love. 

I think I agree with her. 

Bekas teman kuliah di Unnes yang kini menjadi dosen berkata bahwa, teman adalah orang yang bisa diajak sharing tanpa tendency apa-apa. Si pak dosen ini malu disebut namanya, jadi silahkan stalk yang bersangkutan di www.sembarangan.info  🙂

Tutuz – seorang teman dari Surabaya yang aktif dalam kegerakan gereja, menjelaskan bahwa friendship adalah hubungan timbal balik yang mengandung unsur tarik-menarik secara konsisten. Friendship itu nggak beda dengan pacaran. Saya pikir benar juga, toh keduanya ada dalam relationship scope. Kalau berteman aja gagal, gimana mau pacaran, sob. 😛

Lain lagi dengan jawaban dari kalangan engineer. 

An engineer said, “Friends easy come easy go, but best friend will last forever even though you don’t get in touch for long period of time”. 

Mungkin karena biasa berpikir taktis dan praktis, si teman – yang juga malu disebut namanya – pun menambahkan bahwa, 

“Buddy and business are two different things; it is best not to do business with our best buddy. 

Business involve money, it is a big risk for the friendship”. 

Saking terbiasa ngitung sudut dan siku, si engineer malah menyuruh saya untuk googling iklan Carlsberg: Put Friends to Test. Silahkan klik linknya di:

 http://www.youtube.com/watch?v=vs1wMp84_BA

By the way, iklan tersebut mengingatkan saya pada seorang teman lama bernama Joseph. Saat itu, ia adalah satu-satunya teman yang rela diganggu tengah malam untuk membebaskan saya dari kemungkinan menginap di kantor akibat hujan lebat. 

Pernah juga, ia mengantar saya ke kantor polisi super spooky ditengah malam ketika saya kehilangan dompet.

Joseph ini seorang bos stationary di kawasan Kurdi – Bandung, yang 2 tahun belakangan mulai terjun ke bisnis photography.  

Sama halnya dengan si Pak Dosen dan si Engineer, Joseph ini juga pemalu.

Saya menghormati privacy mereka 🙂 

 

Seorang animator ngetop dari kota kembang bernama Daud Suryanugraha, mengutarakan bahwa, “Friendship belongs to the basic need of humanity. Although a friendship may not last forever, but the need of making friends will always there.”

Tidak semua hal bisa dibicarakan dengan teman atau sahabat sekalipun; ada beberapa hal yang lebih tepat dibicarakan dengan pasangan atau (mungkin) leaders. Yang jelas, semua nara sumber saya setuju bahwa, model hubungan apapun haruslah menghasilkan benefit yang hebat, keren dan berdampak. Wujud benefit bisa beranekaragam, bisa berupa profit financial, kedewasaan berfikir, peningkatan kreativitas, semangat juang, hingga ide-ide gila yang dashyat. 

Kalau hubungan yang anda bina (atau sedang dijalani) tidak membawa perubahan apapun terhadap pelaku di dalamnya (baca: anda dan teman ybs), lebih baik sudahi saja. #Sincere #advice. 

Buang waktu, tenaga, pikiran plus uang. 

***

Saya mengagumi Rene Suhardono yang telah berhasil menanamkan konsep sekaligus nilai-nilai passion yang sehat lewat karyanya.

Tunggu dulu, anda sudah pernah mendengar nama Rene Suhardono kan? Kalau belum, anda mungkin kelewat lama bertapa di dalam kantor hahaha. Googling gih! 😛

Rene adalah salah satu rockstar yang memiliki jaringan pertemanan sehat. 

Kekagumannya terhadap Anies Baswedan telah menghasilkan foreword di salah satu buku career coaching nya;

berkumpul dengan Pandji Pragiwaksono dan Ernest Prakasa telah menghasilkan bahasan cashing- in your career yang jauh lebih bermakna; 

Edward Suhadi bahkan mendedikasikan sebuah tulisan di blog pribadinya, untuk mengapresiasi peranan Rene dalam hidupnya. Ia menuliskan bahwa, berteman dengan Rene membuat hidupnya tak pernah sama lagi. 

Bener sih.

Hidup saya juga nggak sama lagi sejak membaca buku Your Job Is Not Your Career beberapa tahun lalu. 

Pertemanan para rockstars di atas telah menghasilkan karya-karya hebat berkelas nasional yang dinikmati orang banyak (sebenarnya sih dinikmati oleh seisi negeri).  

Lihat saja berapa banyak video, photo, tulisan, music, bit stand up, merchandise, dan bahkan forum- forum diskusi yang digelar secara gratis yang diprakarsai oleh mereka. Mulai dari proses konvensi Anies Baswedan hingga kemenangan Jokowi -Kalla di Pilpres 2014. 

Keren dan membanggakan.

Saya berani menyatakan, bahwa Indonesia hari ini dibentuk oleh jalinan friendship orang-orang keren.

Kawanan yang nggak diam-diam saja menyuarakan kebenaran dan beraksi karena peduli. 

They shout it out! Too loud to be ignored!

Yes. 

That’s how friendship suppose to be. 

Kumpul bareng – seseruan – sekaligus menghasilkan karya hebat. 

Tetap menjadi diri sendiri sekaligus membawa dampak bagi generasi. 

Tidak anti terhadap debat panjang namun tetap focus pada tujuan semula. 

***

Saya ini mungkin category yang beruntung, karena dikelilingi teman- teman baik, supportive sekaligus keren; bisa saya ajak diskusi via apapun, kapanpun dan dimanapun. Literally. 

Saya punya networking yang sehat meskipun kami nggak selalu kopdar. 

Saat ini, Indonesia memang masih semrawut dan berantakan, makanya kita perlu turun tangan. 

Memang macet dan banjir dimana- mana, makanya perlu upaya kita- kita untuk membenahi. 

Memang masih banyak kasus korupsi yang harus diusut oleh KPK, makanya kita perlu proaktif mengawasi kinerja para wakil rakyat. Silent isn’t always good, you know. 

Memang belum terlalu dikenal di manca negara, makanya rajin-rajinlah berkarya supaya bisa unjuk gigi. 

Mau sampai kapan anti bahasa Inggris dan bersembunyi dibalik kedok “bangga berbahasa Indonesia”?

Jangan picik. 

Pikiran yang sempit akan berdampak buruk untuk anda. Wawasan nggak berkembang, pengetahuan nggak bertambah (baca: itu- itu saja), pertumbuhan mandeg, networking pun nggak melebar kemana-mana. Anda terpenjara dalam pikiran sendiri, artinya anda belum merdeka 🙂

Hidup yang kita jalani sekarang inilah yang akan kita wariskan kepada anak cucu. 

This is gonna be our legacy. 

Stop mengeluhkan keadaan negeri kalau anda sendiri nggak mau direpotkan untuk andil. 

Anda nggak mempunyai hak untuk itu. 

Di salah satu orasinya, Anies Baswedan berkata bahwa: 

Negeri ini dibangun dengan cucuran darah dan air mata.

Karenanya, hiduplah dengan kemerdekaan yang bulat. 

Hidup cuma sekali, buatlah menjadi berarti. 

Berhenti hidup hanya untuk diri sendiri, mulailah berkontribusi. 

Musik, tulisan, show biz, akademik, science, art, photography, finance, fashion and health, semua bisa dijadikan media berkreasi. Asal punya niat.

Bakat dan skill kita terlalu berharga untuk disia-siakan. 

***

Rico Febrian – a friend that I’ve met recently, reminds me that friendship is about priority, too. Who your friends are determine what your priorities will be, and consequences come after that.

I have no doubt with his words.

Wrong companionship won’t just bring you down, but also will put you on the zero growth.

Perlu bukti? Baca- baca berita om Wow* ngambek akibat kalah Pemilu gih 😛

Mohon diingat bahwa, baik buruknya hubungan bergantung pada pelaku- pelaku yang terlibat didalamnya.

 

Masih dalam suasana kemerdekaan nih. Masih ramai membicarakan hasil keputusan MK yang menolak seluruh gugatan Prabowo- Hatta. Saya ingin anda menyempatkan 4 menit untuk menonton video #Project17 di bawah ini. 

 

Menonton #Project17 membuat saya bangga dan terharu. 

Orang- orang sesibuk mereka masih sempat membikin karya non- profit yang berkelas excellent. 

Yang saya lakukan, belum ada apa-apanya. 🙂

 

Indonesia, onnellinen indepence päivä.

You’ll always be a true home for me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s