Kenapa ya? 

Ada satu atau dua bagian dalam hidup yang sering saya pertanyakan.

Perihal seperti,

“Kenapa ya, keluarga saya tidak seperti keluarga orang- orang lain? Nampaknya, mereka semua harmonis dari sononya.”

“Kenapa sih dulu ayah dan ibu saya harus berpisah? Akibatnya, kami- kami ini harus merasakan dampak buruknya, bahkan hingga sekarang.”

Atau pertanyaan seperti,

“Kenapa saya tidak Kristen sejak lahir?”

🙂

Memang cuma dalam hati, tapi sering. Paling tidak, sampai akhir tahun kemarin.

.

.

.

Dulu, duluuu banget, saya pikir Tuhan adalah sebuah zat – yang tak terlihat dan tak kasat mata. Dia melayang- layang diudara bak dementor dicerita Harry Potter.

Paling tidak, begitulah doktrin yang dulu saya terima.

Lucunya, saya jadi merasa kesulitan ketemu Tuhan – yang notabene katanya telah menciptakan saya.

Saya, lantas memutuskan untuk tidak peduli lagi.

Hingga saya dihadapkan pada situasi sulit, serba gelap, dan serba sendiri.

Baru saya peduli.

Pada Tuhan?

Bukan. Pada diri saya sendiri 🙂

***

Saat itu, saya berumur 24 tahun, dan bukan penyembah siapapun.

Keluarga sangat berantakan, tidak punya teman, bahkan dengan saudara sekandungpun saya tak pernah bercerita.

Lebih tepatnya, kami memang tak saling bercerita 🙂

Saya bertanya ke diri sendiri,

“Hey, sekian tahun hidup di dunia ini untuk apa sih?
Kalau Tuhan itu beneran ada, saya kok sulit banget ketemu Dia?

Doesn’t make sense.

Dia nggak lihat ya, hidup keluarga saya yang super morat- marit ini?

Mario Teguh lebih omnipresent daripada Tuhan! Errr… .”

Saya merasa dicampakkan.

Saya marah.

Hingga suatu malam, Tuhan datang dan mengetuk pintu hati saya, kataNya, “Sini :)”.

Saya, nggak bisa ngomong apapun selama berbulan- bulan.

Tiap malam, cuma demen duduk di kamar – serasa berdua dengan sosok yang berkata, “Sini :)”.

Sosok itu sangat lembut 🙂

Entah bagaimana awalnya, Dia berhasil membuat saya merasa dikasihi.

Saya dulu sering mengutuki Dia, tapi kok ternyata Dia nggak nampak marah.

Malahan, Dia bilang,

“Sudah, Sar. Sudah :)”.

Sejak saat itu, saya berbulat hati mengikut Beliau 🙂

***

Bertahun- tahun kemudian, barulah saya menyadari; bahwa ditengah-tengah situasi carut- marut yang dulu saya alami, saya justru ketemu Tuhan 🙂

Hingga detik ini, sayapun masih selalu berkata,

“Dulu, kalau bukan karena Tuhan, gua pasti sudah mati. Kalopun hidup, gua pasti jadi mesin pembunuh.”

FYI saja, saya dulu bercita- cita hendak membinasakan orang- orang yang telah memporak- porandakan kehidupan saya dan keluarga.

Or worse, akan saya buat hidup mereka sengsara.

Saya mau dan saya mampu.

Tapi Dia gagalkan.

Dan saya justru berterimakasih 🙂

***

Kawan,

Ternyata bukan masa lalu saya yang jadi soal, tapi keputusan saya untuk tidak menoleh lagi kebelakang, itulah poin utamanya.

Btw, siapa sih yang putih suci sejak lahir? Nggak seorangpun.

***

Nah sekarang, kenapa saya menulis artikel ini?

Supaya kalian – yang sekarang merasa sendiri, disakiti, dibuang atau dicampakkan; kalian tahu bahwa kalian tidak berjuang sendirian.

Kalian mungkin sedang jatuh, sudah berusaha bangun, eehh jatuh lagi.

Ayo, bangun lagi 🙂

Selama masih ada langit biru,

pasti masih ada harapan baru.

Dari kediaman ibu saya di ujung kota Semarang, saya mengucapkan Selamat Tahun Baru.

Ayo buat 2016 lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. 🙌🏻🙌🏻

Cheers,

@erniesarra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s