Meskipun Sudah Rata

S0945896.jpg

 

Kurang dari 24 jam yang lalu, saya ngobrol dengan seorang teman tentang Parenting, namanya John. Obrolan ringan aja, ngobrol sambil jalan cari makan.

John membagi cerita tentang kebingungannya terhadap pola asuh keluarga jaman sekarang. Sempat juga dia membandingkan dengan cara asuh orang tua ditahun 90-an – era kami berdua – namun tetap saja belum menemukan ujung. John lalu bertanya kepada saya,

“Saras …, menurut lu, cara mendidik anak yang paling benar itu gimana?”

Saya kenal John cukup baik, beberapa kali ngobrolin topik berat sampai ke hal-hal yang agak tabu, jadi saya cukup tahu bagaimana cara dia akan merespon cara saya berpikir.

“Menurut gw, konsistensi adalah kunci utama dalam Parenting,” jawab saya.

Dia mengangguk- angguk sambil bergumam, “Hmm … .”

“Konsisten melakukan hal yang benar ya. Bukan berarti kalau lu demen canning anak, trus lu boleh konsisten canning anak lu tiap kali lu pikir dia salah,” lanjut saya.

“Oohh ,,, tapi kok ponakan gw, nggak pernah rewel lagi sejak digampar bokapnya ya? Berarti it (baca: kekerasan) works dong, Sar,” katanya.

Saya bertanya, “Anaknya umur berapa tuh?”

“Mmm ,,, waktu itu sih 5 (tahun) mungkin,” jawabnya.

Saya mengurut dada, lalu saya bilang,

“Gini John, yang namanya mendidik itu pake purpose, betul?”

Dia mengangguk, lalu saya lanjutkan dengan elaborasi berikut,

“Nah, practically apapun yang lu lakukan terhadap anak lu dimasa sekarang seharusnya sinkron dengan output yang hendak lu capai dimasa depan, seperti apa profile anak yang lu gambarkan. Kalau gw sih, ketika dia remaja – dewasa – bekerja, dia bisa apply nilai- nilai hidup yang gw tanamkan sejak dia masih kecil.

Dia tahu mana benar dan mana salah, dia punya keberanian untuk memutuskan, dan menghidupinya karena dia punya pengertian yang benar. Betul nggak?”

“Ooh … “, angguknya dengan muka serius.

“Gw kasih contoh deh. Misalnya, anak lu rewel; rewelnya sampe bikin lu telat ngantor atau sampe harus batalin janji ama orang. Nah, gw berani bilang 85% elu yang nggak bisa manage anak lu”.

Lalu si teman bertanya, “Tapi kalo anak rewel kan susah, Sar. Kita nggak tahu maunya apa. Apalagi masih umur 1-2 tahun gitu …?”

Saya tertawa lepas,

“Haha … kata siapa? Lu tau nggak, bayi (normal) umur 6 bulan aja udah bisa lu ajak main peek-a-boo, John. Matanya udah bisa reference ke elu, tracking kemana kita bergerak.

Umur 9 bulan, bayi udah bisa pointing, Bro. Mereka udah bisa menunjuk ke benda- benda yang akrab dengan kesehariannya, misalnya menunjuk ke botol susu ketika mereka haus.

Atau pas lu ajak si bayi jalan- jalan sore, lihat bunga di pinggir jalan, trus bayi lu nunjuk ke arah bunga itu, sebagai ungkapan bahwa dia menemukan sesuatu yang membangkitkan interestnya, dan dia ingin membagi hal itu dengan elu”.

Sekali lagi, John manggut- manggut tanda mengerti penuh arti. Itu sudah lebih dari cukup untuk saya. John dan saya lalu duduk bareng yang lain untuk pesan makanan.

***

“Kalau ada yang bilang bahwa anak kecil nggak bisa diajak komunikasi,

itu salah besar.”

Belum bisa bicara, itu betul. Makanya anak balita tidak seharusnya diajar baca tulis – apalagi berhitung. Lha wong verbalisasinya saja masih forming, kok mau diajari Calistung.

Pun ketika si anak telah dewasa, verbalism hanya akan mengcover 20-25% kemampuan berkomunikasinya. Nggak percaya? Silahkan research googling tentang social communication.

Gestures, facial expressions, tone, sounds, melody, justru akan menjadi ingredients utama dalam membagi ide atau gagasan. Dan semua bahasa non verbal ini dibentuk justru saat mereka masih kecil – when they’re in their forming stage.

 

“When they are older, I guarantee, it’s going to be a hard work to undo the wrong things;

even the tiniest mistake that you think he should’ve known or aware of.

If you can’t undo the mistakes when they’re still 2 yo,

what makes you think you can undo them in their 12 or even 20’s?”

Use your common sense 🙂

***

Saya cuma mesem saja ketika ada parents bilang bahwa anaknya bisa duduk tenang dan diam – dengan iPhone/ iPad ditangan. LOL.

Atau ketika parents lain bercerita bahwa anaknya bisa menghabiskan porsi makan malam sampai tandas – sambil melototin Disney channel dan disuapin si bibik tentunya. LOL.

Lebih lucu lagi, ketika si parents dengan penuh kebanggaan bercerita bahwa si anak yang baru umur 4 tahun bisa berhitung! Wow!

Saya beritahu ya, ada perbedaan yang suanggatt besarrr antara number recognition and counting. 🙂

Sama halnya, hanya karena si anak bisa nyebut huruf A sampai Z, bukan berarti dia bisa membaca. 🙂

Urut dada saja.

Hal- hal seperti ini sangat sering saya jumpai.

Logikanya, kalau dimasa balita saja anda sudah sampai merasa perlu memakai kekerasan fisik untuk mengoreksi kesalahan mereka,

lalu diusia remaja, ketika mereka berbuat salah – dan mereka tetap akan begitu, demikian pula anda – apa yang akan anda pakai? Colt Defender? Atau AK- 47?

Diusia mereka yang masih balita saja, anda sudah merasa punya hak menaikkan pitch selevel Beyonce,

lalu saat mereka berusia remaja, anda pikir mereka masih bakal sudi bercerita tentang kecengan yang ditaksir di sekolah? Atau saat anak gadis anda pertama kali menstruasi?  Atau mungkin anak laki- laki yang baru menginjak usia akin baliq bingung dengan sensasi aneh yang dirasakan di area penisnya?

Diusia 3-4 tahun – saat hanya papa dan mama yang mengisi dunia mereka – anda sudah menaruh iPad digenggaman,

anda sendiri yang membuat main games iPad lebih menarik ketimbang berinteraksi dan membangun relationship dengan papa – mama. Dan percayalah, kalau itu sudah terlanjur terjadi, anda nggak akan pernah menang bersaing melawan iPad.

Saya membagi pemikiran ini dalam kapasitas saya sebagai pengajar.

Jangan berani- berani bilang bahwa saya belum punya anak, makanya bisa nulis panjang lebar begini.

Setiap hari, saya mengurus belasan anak balita di kelas, berinteraksi dan mengajarkan disiplin, termasuk mengganti popok dan menceboki sehabis poop.

Saya nggak keberatan mengurus anak anda juga, dan saya pastikan hasilnya akan berbeda.

Kenapa?

Karena saya konsisten dan anda tidak.

Lagipula, anak itu gimana orang tua kok 🙂

Saras …, urut dada lagi deh meskipun sudah rata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s