Rumah Ini Dijual (part 1)

 

rumah ini dijual.jpg

 

Semarang, 1998.

Sudah siang, saya harus pulang.

Les tambahan di sekolah sudah beres, tugas eskul Tata Busana sudah dikumpulkan. Sudah waktunya jalan ke pertigaan untuk nyegat angkot kuning. Sudah janji dengan papa untuk masak tahu bacem, kalau nggak cepet- cepet jalan nggak akan keburu.

Fuih …

Semarang panasnya minta ampun …

Badan serasa lengket, seragam OSIS yang saya pakai juga sudah basah oleh keringat. Air minum sudah habis. Yah … memang harus segera pulang. 🙂

Sejam kemudian saya sudah di rumah, sudah klutak- klutik memasak di dapur ditemani papa. Haha … papa ya cuma duduk manggut- manggut sambil ngicipin saja, yang mondar- mandir naik turun ya saya.

Ditengah- tengah saya masak, ada telepon dari Rere untuk saya, papa langsung angkat dan jawab,

“Erni sedang istirahat. Soalnya nanti malam harus bikin PR.”

“Kok …?” saya protes.

“Sudah, masak saja. Nanti kalau butuh juga telepon lagi,” jawab papa.

Yah … nasib gadis Jawa.

 

***

 

Cerita itu adalah penggalan memory semasa saya masih SMA. 🙂

Sehari- hari, yang saya tahu hanya sekolah dan rumah. Saya jarang sekali main keluar rumah. Dunia saya hanya ayah, ibu, kakak, adik, dan 1-2 orang teman dekat.

Semua kegiatan saya terjadwal rapi, proporsi antara urusan sekolah dan rumah sudah diatur oleh papa. Tujuannya tak lain adalah, selain pintar disekolah, saya juga tetap bisa diajar mengurus rumah tangga. Sepertinya, papa sukses menjalankan misinya. 🙂

Rumah ini adalah rumah yang papa beli dari hasil keringat pertamanya; asset yang beliau upayakan supaya kami sekeluarga nggak usah pindah- pindah kontrakan setiap tahun.

Dulu, rumah ini adalah yang terbesar dan termegah di area Truntum II. Sayang sekali, biaya untuk merawat rumah ini juga tidak kecil.

Tahun 1999, ketika krisis moneter menghantam Indonesia, usaha yang beliau rintis kena dampak hebatnya. Papa bangkrut.

Beruntung, gaji mama sebagai guru SMP negeri, cukup menolong untuk bertahan hidup. Kami sekeluarga belajar untuk hidup sangat super efisien, alias irit. 🙂

Seiring berjalannya waktu, kami semua tumbuh besar, mulai belajar mandiri untuk  menghidupi diri sendiri.

Satu per satu mulai menemukan tempat dan habitat baru untuk dikembangkan, kami tidak lagi tinggal seatap. Lain halnya papa yang tetap menikmati tinggal di rumah. 🙂

Juni 2011 adalah saat terakhir saya berbincang dengan papa di rumah nomor 17 ini, sebelum enam bulan kemudian beliau meninggal karena serangan jantung di Kudus. Sejak saat itu, tidak ada lagi alasan untuk saya pulang ke rumah.

Telah lima tahun berganti kami melewati hari membawa serta figur almarhum papa kemanapun kami pergi. Hanya dengan melihat makanan kesukaan beliau saja, saya sudah pasti bakal baper.

Sudah.

Mungkin sudah waktunya melepas sebagian kenangan tentang papa.

Sudah masanya kami- kami ini gantian mendirikan atap sendiri.

Meskipun mama, kakak, adik, maupun saya, sangat mencintai rumah peninggalan papa, tapi kami juga harus relalistis.

Tidak satupun dari kami mampu merawat dan menjaga rumah ini.

Masing-masing dari kami lebih menikmati kehidupan baru yang kami punya, termasuk mama. Dan, telah terlalu lama rumah ini dibiarkan tak terurus.

Sudah.

Sudah masanya berganti pemilik.

Sudah saatnya dipercantik untuk dihuni.

Sudah semestinya keriuhan terdengar dari orang-orang yang meninggalinya.

Semua dokumen kelengkapan rumah telah dipersiapkan.

Rumah ini sedang menantikan kedatangan pemilik baru.

Bisa jadi, salah satu yang sedang membaca artikel inilah yang akan jadi pemilik barunya.

Jangan sungkan menghubungi saya kalau ingin tahu lebih banyak tentang sejarah rumah nomor 17 ini.

Nomor telepon kakak saya tertera jelas digambar, dapat dihubungi kapanpun Anda mau.

Rumah ini dijual. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s