Hari Minggu Pagi

Disuatu pagi dihari Minggu, (alm) mbah Putri memanggil (alm) Ayah dan berkata,

“Aku arep ngundhakke rego sewo pavilion mburi.”

“Ibu wis ngendikan karo sing nyewo?” tanya Ayah.

“Yo durung, arep ngomong karo kowe dhisik sakdurunge ngundhakke rego,” jawab mbah Putri.

Lalu katanya “Ibu, wong nggolek sewo omah kuwi mergo ora mampu tuku omah dhewe. Nek mampu, ora bakal manggoni omah sewo.”

Mbah Putri meletakkan piring dan terdiam beberapa saat.

Lalu dengan suara pelan beliau berkata,

“Ono sing sanggup mbayar luwih dhuwur, arep tak wenehke wong kuwi wae. Tonggo- tonggo yo dho ngomong podho kok, Mbang.”

Ayah tersenyum lembut menjawab dengan suara yang lebih pelan, “Atine Ibu ngendikan piye?”

Mbah Putri duduk terdiam beberapa lama sebelum akhirnya berkata, “Jane ora tegel, Mbang.”

Sudah. Ayah tahu arti jawaban pendek itu.

Hingga 5 tahun berikutnya, penghuni yang sama masih menempati pavilion itu. Mereka pindah setelah punya cukup uang untuk mencicil KPR dari bank lokal.

 

***

 

Saya berusia 8 tahun saat menyaksikan percakapan itu.

Scenery yang pendek namun sangat melekat di ingatan dan nurani.

Sejujurnya, hingga hari ini, saya masih terus menuai buah dari kebaikan Ayah kepada sesama. Episode-episode hidup saya pun dipenuhi dengan pertolongan orang- orang lain.

Saat saya berperang batin dengan segala hal yang berbau human relationship dan  finance, penggalan percakapan itu tidak pernah gagal menenangkan saya.

.

.

.

Bahwa hidup ini besar.

Ada yang lebih berharga ketimbang uang.

Ada yang lebih pantas saya perjuangkan untuk keutuhan sebuah hubungan baik.

Ada pelajaran-pelajaran hidup yang ingin saya wariskan ke anak- cucu dimasa depan.

Ayah mengajarkan untuk tetap kuat dan tersenyum ditengah caci-maki dan gossip.

Ayah mengajarkan untuk tetap santun ditengah-tengah ketidaksetujuan.

Ayah mengajarkan bahwa kejujuran adalah pondasi untuk membangun segala macam hubungan.

Ayah mengajarkan untuk yakin menjatuhkan pilihan tanpa harus membenci yang lain.

Ayah tidak pernah jemu mengingatkan saya bahwa Tuhan mengamati hidup saya Senin sampai Minggu.

Ayah meneladankan kerendahan hati yang sampai sekarang belum tertandingi oleh pria manapun.

Ayah mengajarkan bahwa mengalah bukan berarti kalah, karena hanya pribadi yang kuat saja yang bisa mengesampingkan egonya untuk kebaikan bersama.

Ayah mengajarkan saya arti ketulusan disepanjang hidupnya.

.

.

.

Ayah.

Mungkin saya hanya sedang melow.

Mungkin saya hanya sedang terlalu kangen Ayah.

E. N. D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s