Adiós!

 

“Setiap manusia di dunia pasti pernah sakit hati,

tapi hanya yang pemberani yang mau mengakui. 

Setiap manusia di dunia pasti punya kesalahan,

hanya yang berjiwa satria yang mau memaafkan.”

.

.

.

Kutipan syair di atas dinyanyikan Sherina saat bermain di film “Petualangan Sherina” belasan tahun silam; salah satu film dan lagu yang selalu saya taruh di repeat playlist.

Sejak dulu, saya selalu berpikir, alangkah indahnya dunia ini kalau semua orang berperilaku seperti isi lagu itu, tidak menyimpan kepahitan dan saling memaafkan. Human relationship akan jadi sangat sederhana dan harmonis. 🙂

Tapi, kita semua yang sudah cukup lama hidup tahu bahwa akan selalu ada orang- orang yang sulit untuk dicintai kembali, orang- orang yang tidak kunjung berubah meskipun telah puluhan kali dimaafkan. Kesalahan- kesalahan yang sama terus saja berulang, menjadi pola yang amat mudah tertebak. Skenario bakal lebih epic lagi, kalau si pembuat salah menempatkan dirinya sebagai korban. Macam kita bertanggung jawab atas kebahagiaan hidup mereka. Hah. Malas.

Biasanya, mereka akan bilang,

“I didn’t mean to do that … huu huu … . “

Atau,

“Please, it’s only the way I say things. My heart doesn’t say so … huu huu … .”

Perkataan bisa didengar, mimik muka bisa dilihat, pun keduanya nggak saling sinkron.

Sayangnya, isi hati itu ibarat isi rekening bank, cuma si empunya dan Tuhan saja yang tahu. 😛

***

Kesal? Banget.

Gondok? Pisan!

Pahit? Sempat.

🙂

***

Saya pikir-pikir lagi, yang brengsek mereka, kok yang pahit saya. Haha.

Iya, saya sudah memaafkan mereka.

Benar, saya tidak mengingat lagi kesalahan- kesalahannya.

Tapi saya melupakan satu hal, saya masih berharap mereka akan berubah.

Dengan ketulusan memaafkan, saya pikir mereka akan menyadari kesalahannya dan memperbaiki sikap.

Saya pikir, begitulah formulanya.

Saya salah.

Saya lupa bahwa manusia adalah mahluk yang kompleks.

Saya lupa bahwa kami memiliki level of understanding yang berbeda.

Saya memahami hukum memaafkan, tapi mereka tidak menaruh nilai terhadap hubungan baik yang pernah ada. Ya buat apa diteruskan? Buang waktu dan energi. 🙂

 

As it says, “It takes two to clap.”

It can’t be more factual than that. 

 

Maaf itu mudah diucap, tapi mahal untuk dilakukan.

Sekali, dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali, berkali- kali, macam setiap hari berulang dong. Males keuleus …

Mungkin untuk mereka, maaf itu gratis seperti Oksigen yang disediakan alam. Orang- orang golongan ini, akan perlahan- lahan saya hilangkan dari radar hidup saya. Saya hanya akan bersikap wajar dan malas melakukan lebih untuk mereka. Tempatnya akan secepat mungkin digantikan oleh hal atau individu lain yang lebih valuable dan membangun hidup saya.

 

“Tapi kamu kan beragama … ?!

Tiap minggu ke gereja.

Masak kesel sama orang?!” 

.

.

.

Woles.

🙂

Tuhan yang saya sembah memang mengajarkan saya untuk mengampuni, sesakit apapun itu. Tujuannya, supaya saya nggak menyimpan racun kepahitan di dalam hati, untuk membikin hati saya lega dan lapang, juga menjadikan langkah kaki saya tetap ringan.

Tapi saya juga nggak pernah lupa, bahwa Tuhan mengajarkan saya untuk bijaksana, alias belajar dari kesalahan dan kebodohan dimasa lalu. Tulus bukan berarti bodoh.

 

“Maafkan, lupakan, teruskan perjalanan, dan fokus pada tujuan.”

 

Tuhan juga mengajarkan saya untuk tahu diri, alias waspada menjaga diri sendiri.

Selalu ingat bahwa memaafkan bukan berarti membenarkan.

Saya tahu, orang- orang itu bukan bagian dari perjalanan hidup saya, ya tinggalkan saja.

Saya tahu bahwa mereka akan lebih banyak merusak daripada membangun, ya nggak usah diajak jalan.

Saya tahu urusan saya banyak dan waktu saya terlalu berharga untuk disia-siakan.

Lagipula, hidup itu tanggung jawab masing- masing kok. 🙂

Dan sepanjang saya hidup, dimanapun dan kapanpun, tepuk tangan selalu perlu kerja sama dari tangan kanan dan kiri.

Sama halnya dengan salah dan maaf dalam hubungan antar sesama. 🙂

Situ berbuat salah, saya maafkan, ya jangan diulang lagi dong.

Kalau masih bandel juga, saya tinggal pulang saja deh.

Hujan juga biar, toh angkot banyak.

Adiós! ✌🏻️

 

_______________

Photograph courtesy of @sambara35 . Gracias, Oom! 

2 thoughts on “Adiós!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s