HUJAN

Hujan. Untung neduh. 🙂

Sedang asik-asiknya mengayuh pedal di tanjakan, eh hujan turun. Bagus.

Untung ada bus stop nganggur, jadi bisa neduh. Beneran bagus.

Sebenarnya, sejak dari rumah juga sudah kelihatan mendung berarak di langit kota, cuma ya saya keukeuh pergi gowes untuk membuang limbah emosi dan mengaktifkan otak supaya bekerja normal seperti sediakala.

 

Lebay. 

Ember.

 

Ya, saya sedang berduka atas kepergian Mbah Wedok, masih sering menangis secara tiba- tiba, masih gampang terbawa emosi setiap kali ingat kesukaan- kesukaan beliau.

Tidak mudah mengucap “Selamat Tinggal” atas kepergian orang dekat yang kita sayangi, apalagi kalau sosok tersebut punya andil besar terhadap pertumbuhan hidup kita. Yang pernah mengalami pasti tahu rasanya. 🙂

Saya memang sangat dekat dengan Mbah. Semasa masih hidup, Mbah rajin mengingatkan supaya saya segera mencari teman hidup. Kalau mood sedang baik, saya ya hanya cengengesan saja; tapi kalau sedang males, saya pasti pasang muka judes dan melengos. Lama- kelamaan, Mbah membaca perubahan air muka saya, dan berhenti bertanya. Saya senang sekali.

Desember tahun lalu ketika saya pulang ke Semarang, Mbah sama sekali tidak menyinggung soal “Kapan Kawin?”

Rasanya tenang sekali. Ada yang ganjil.

Mbah hanya bilang,

“Mbah seneng kowe mulih. Putuku wis tak enten- enteni ket wingi Senen.” 

(Indonesia: Mbah senang dengan kepulangan kamu. Cucu yang sudah ditunggu-tunggu pulang sejak hari Senin kemarin.)

.

.

.

Ya.

Mbah begadang semalaman menunggu saya pulang ke rumah karena kelalaian saya mengabari perubahan jadwal.

Mbah enggan menurunkan kelambu karena yakin saya pasti pulang malam itu juga.

Di hari-hari terakhirnya pun, Mbah lebih banyak tersenyum dan tidak mengeluh lagi soal tulangnya yang sakit.

Mbah seperti sengaja melepas saya berangkat kembali ke Singapura tanpa cemas dan khawatir.

Tidak seorangpun mengira kalau 24 hari sesudah saya terbang adalah hari terakhir beliau menurunkan kelambu di peraduan rumah.

.

.

.

Mbah.

Memang bukan sosok yang sempurna, namun akan selalu hidup di kalbu terdalam.

.

.

.

Mbah.

Terimakasih sudah momong dan gojekan dengan saya disepanjang masa balita saya.

Terimakasih sudah mewarnai masa kecil saya dengan lagu “Si Unyil” dan cerita legendaris “Ratapan Anak Tiri.”

Terimakasih sudah memberikan ruang bernyanyi dan berjoged ria di depan toko bersama si Enduk dan Santi.

Terimakasih untuk kebebasan bermain pasaran dan kecehan di kali setiap kali sekolah usai; senantiasa sabar dengan baju penuh lumpur dan kotor air kali.

Terimakasih telah mengajarkan saya untuk selalu hormat kepada Ayah dan Ibu.

Mbah.

Sementara ini, saya akan banyak mencucurkan air mata, sambil pelan-pelan merelakan kepergian Mbah.

Mbah.

Selamat beristirahat di tempat terbaik bersama Gusti Allah.

-End-

2 thoughts on “HUJAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s