Menjadi 34

Beberapa bulan belakangan ini saya diusik oleh sebuah istilah klasik: “Kejujuran”. 

Ini bukan tentang lagu almarhum Achmad Albar dan Gong 2000. 

Bukan. Bukan. Bukan.

Berawal dari sebuah masa transisi bertemu komunitas baru yang kemudian mendesak saya untuk menggali ulang kebutuhan berucap, berpikir, bersikap terbuka dalam bergaul dan membawa diri. Semakin nyata makna kejujuran yang saya dapati, semakin sulit pula untuk saya ingkari.

***

Banyak orang mengenal saya sebagai individu yang ceplas- ceplos, dan itu fakta. Sebagian saya lakukan karena kebutuhan, sebagian lain karena ketidaksengajaan, sisanya karena kemampuan berkomunikasi yang masih senantiasa perlu dilatih. Apapun itu, tetaplah saya mensyukuri bentuk dan keadaan saya sebagai seorang pribadi yang utuh; karena itulah yang menghantarkan saya menjadi sosok seperti yang terlihat sekarang.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, kenapa bisa sampai saya terusik?

Karena saya mendapati bahwa keputusan yang disampaikan ternyata jauh berbeda dengan aksi yang dieksekusi.

Karena persetujuan- persetujuan yang diubah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, dan menganggap semua pihak akan dengan serta merta menerimanya.

Karena panggung dan mikropon digunakan untuk menyampaikan sisipan-sisipan agenda pribadi.

Karena hubungan baik ditempatkan di atas kompetensi dan kapabilitas individu, lalu dijadikan dasar pemberian kesempatan.

Karena nama Sang Esa digunakan untuk memayungi segala bentuk pernyataan di dalam bangunan empat dinding.

Juga, karena pengertian murni yang saya peroleh dari pengalaman hidup lalu dihantam dengan kutipan ayat – ayat kitab suci, bak saya ini manusia kurang beriman. Seolah-olah berbeda pandangan itu dosa.

Hati saya bergejolak, nurani saya terusik. 

Energi serasa terkuras, lalu saya memilih diam. 

Saya diam karena saya tahu saya bukan sang penguasa panggung.

Saya diam karena saya memaklumi perbedaan cara pikir masing- masing orang.

Pemikiran logis yang saya usung tidak serta merta bisa diterapkan di semua lingkungan. Alih- alih didengar, saya malah akan semakin dihujat. Sayapun sadar betul dengan konsekuensi diam yang pasti harus saya tanggung. Saya paham betul soal ini.

Mungkin juga, saya diam karena saya minoritas; dalam artian hanya segelintir dari keseluruhan jumlah populasi yang memiliki pola pikir seperti saya. Menanggapi saya sama halnya dengan tidak mengakomodasi kebutuhan mayoritas, begitulah kira-kira.

Empat atau lima bulan yang lalu, anggapan majemuk tersebut masih saya jadikan bahan pemikiran. Sampai akhirnya saya menyadari, bahwa pemikiran saya sama sekali tidak dianggap.

Kebenaran memang terkadang muncul lewat bentuk yang menyakitkan.

***

Perlu beberapa bulan ditambah liburan mudik ke Semarang untuk menyembuhkan goresan kepedihan yang sudah terlanjur menyayat hati.

Bermalam- malam saya menangis, berhari- hari saya membisu. Saya menjauhi kerumunan, saya mundur pelan- pelan, saya lebih banyak menghabiskan waktu sendiri saja. Saya benar- benar menggali ulang nilai- nilai hidup yang saya yakini dan jalani, memastikan bahwa masa hidup saya tidak sia- sia.

Saya tidak sedang melebih- lebihkan. Itulah peristiwa yang saya alami.

***

Saya tidak menyebutkan secara gamblang siapa- siapa saja yang terlibat, karena memang bukan itu yang menjadi tujuan tulisan ini diterbitkan.

Saya membagi kejadian yang saya alami untuk mengakhiri kebisuan.

Untuk memulai awal yang baru, untuk tidak sungkan- sungkan lagi menyampaikan kejujuran meskipun dihujat oleh lingkungan.

Saya yakin, ada pribadi- pribadi lain di luar sana yang terjebak, dan atau dihadapkan pada dilema realita dan teologis, nurani dan kultural.

Jangan panik, kalian tidak sendiri. Sayapun mengalaminya.

Kalau ada diantara kalian yang terusik untuk berlaku jujur, kerjakanlah.

Berani untuk jujur itu mahal harganya, tidak dipunyai oleh semua orang,

jangan diabaikan. 

Akhirnya, saya memutuskan bahwa memelihara kejujuran yang saya miliki adalah kado terbaik yang bisa saya hadiahkan untuk diri sendiri.

***

Dengar, saya seorang single yang barus saja merayakan 34 tahun masa hidup.

Saya bukan yang paling pintar tapi saya rajin belajar. Saya pekerja keras dan saya tidak bermuka dua. Saya membenci kepicikan dan fanatisme.

Saya menolak untuk percaya bahwa (hanya dengan) memeluk agama tertentu dan rutin datang ke rumah ibadah di hari tertentu bisa menjamin manusia masuk surga.

Sebaliknya, saya seratus persen yakin bahwa Tuhan ada di manapun dan mampu hadir kapanpun. Tuhan peduli pada kelakuan sehari- hari manusia dan bukan pada label keagamaan. Keberadaan Tuhan adalah untuk seisi kosmos, dan tidak ekslusif untuk golongan tertentu.

Tuhan yang saya sembah menghargai eksistensi setiap individu yang hidup di muka bumi, itulah yang memampukan saya untuk tetap berdiri tegak meskipun ada di tengah badai hidup.

Maka sulit untuk saya pahami mengapa ada orang-orang yang berusaha menyeragamkan segala hal, alias sulit menerima perbedaan.

Saya membangun hidup dengan anugrah Tuhan, dan saya meyakini bahwa kebenaran seharusnya digunakan untuk menerangi hidup sesama, dan bukan sebaliknya.

Rasa- rasanya, inilah kejujuran terindah yang pernah saya tulis.

Ternyata menjadi 34 itu sangat melegakan sekaligus membahagiakan. 🙂

End– 

________

(Picture snapped by @resmai ; Tone by @lucky.widianto )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s