LUCU

Saya pernah dikatai “OCD” soalnya saya rajin bersih- bersih rumah dan merapikan kamar. Menurut beberapa orang, saya bersih banget. Menurut saya sih, standar saja. Semua orang juga pada dasarnya suka kebersihan.

Makanya ditemukan benda bernama sapu dan pengki serta kain pel, makanya tersedia jasa pembantu rumah tangga, makanya orang-orang Jakarta memuji pak Basuki terkait dengan kinerjanya menata Kalijodo.

Saya juga beberapa kali mendapat sebutan “Autis” karena saya memilih duduk terpisah saat nonton di bioskop, atau sering tidak gabung outing.

Mengesalkan, tapi saya biarkan saja.

Dijelaskan juga percuma. Lagipula mereka nggak perlu tahu kalau anak berkebutuhan khusus sudah jadi bagian pekerjaan saya sehari- hari, termasuk anak- anak Autis.

Saya juga dianggap ”kurang bisa bergaul dan membawa diri” karena memiliki pandangan yang berbeda dengan kebanyakan orang. Sering disebut keras kepala dan agresif, karena saya banyak bertanya tentang ini dan itu. Padahal, bertanya adalah salah satu cara belajar, ketika saya bertanya berarti saya sedang semangat- semangatnya belajar.

Kalau tidak percaya, coba deh search tentang sejarah dan budaya belajar masyarakat Yahudi.

Saya juga sering banget dicap perfeksionis karena detail dalam menyusun rencana dan menetapkan target yang (dianggap) kelewat tinggi untuk dicapai.

Padahal, kalau melihat jumlah pekerja dan sumberdaya yang tersedia, itu sangatlah memungkinkan. Pertanyaannya, mau kerja atau tidak. Gitu aja.

O iya, saya juga disebut ambisius, karena saya sangat persisten mengejar apa yang saya mau.

Heran.

Mau- mau saya, kalau bukan saya yang mengupayakan, ya siapa lagi?

Sepanjang mereka- mereka yang saya ajak berkolaborasi menyanggupi, ya saya jalan terus. Kalau mereka keberatan dan menolak, ya saya hormati.

Lucu ya. 🙂

Beneran lucu. 🙂

Tanpa research, cek dan ricek, dan mengkaji bahan kejadian, seenaknya saja orang- orang melemparkan komentar dan label.

.

.

.

Coba sini direnungkan baik- baik.

Coba- coba dibayangken, kalau si pengata “Dasar OCD … “ sedang kentut, lalu saya bilang, “Dasar tai … .”

Kira- kira dia bakal baik- baik saja nggak? Kayanya enggak.

Atau,

si pengomen “Namanya juga Autis …” kebetulan sedang sakit perut sampai muntah- muntah, lalu saya komen, “Hamil kali … .” 

Kira- kira bakal meradang tak?

Atau,

si pengecap perfeksionis dikasih investasi modal X juta untuk menjalankan usaha Y dalam periode Z bulan. Saya mau lihat, apakah si pengecap tidak akan menghitung dengan teliti setiap sen yang keluar dari koceknya, plus setiap detik yang dia habiskan untuk mentraining para pegawainya.

Lucu kan? 🙂

Lucu banget. 🙂

Sering banget saya menemui tipe- tipe seperti ini, enteng berkomentar tapi minim empati.

Orang- orang seperti ini, baiknya memeriksa ulang level kemanusian masing- masing. Mungkin kelewat keras menyuarakan Ketuhanan, tapi lupa esensi hidup ber – Tuhan.

Mungkin juga keseringan bergaul dan kebanyakan teman baru, sampai lupa bersopan- santun dan menempatkan toleransi dalam hubungan antar manusia.

Atau mungkin terlampau sering dikasih ajaran “You are born special” tanpa diimbangi dengan refleksi dan evaluasi diri.

Lucu.

Lucu banget.

Saking lucunya sampai sayapun enggan menertawakannya.

________________

Hikmat Paskah; Minggu, 16 April 2017

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s