Telur Yang Salah

Pagi itu saya meminta tolong si bibik di sekolah supaya digorengkan telur untuk makan siang.

Saya bilang, “Can you help me to fry an egg? The scrambled one, no oil. Ok.” 

Jawabnya, “Oh, no oil. Scrambled. Can.”

Sambil mesem saya mengucapkan, “Thank you!”

Lalu saya tinggal pergi field trip bareng anak-anak.

.

.

.

Sekembalinya ke sekolah, si bibik menyodorkan telur bikinannya sambil berkata,

“Here is the egg, miss Erni. I followed your instruction, no oil.” 👌🏻

Dengan penuh kegirangan saya ucapkan terimakasih sekali lagi.

Pas saya lihat, saya kecewa. 

.

.

.

Ada alasannya kenapa saya minta scrambled egg, karena saya nggak doyan makan telur setengah matang. Sementara yang disodorkan ke saya adalah sunshine egg alias telur ceplok setengah matang. Jadi, kuning telurnya masih meleleh gitu lho. 😞

.

.

.

Beberapa detik saya terdiam, bingung mau bereaksi bagaimana.

Mau balik ke si bibik ya percuma, wong telurnya sudah matang.

Lagipula, sepulang field trip kami semua sibuk ngurusin makan siang anak-anak, egois sekali kalau saya ribut soal telur yang salah.

Hah, ya sudah, saya makan dalam diam.

Saya habiskan, dan segera saya tenggak air putih sebanyak-banyaknya untuk menghilangkan rasa eneg telur setengah matang.

Sejam kemudian, kami berkumpul untuk mengevaluasi field trip, dan sukurlah, si boss mentraktir desserts. Hehehe. 

Rasa kecewa akibat telur yang salah terobati dengan manis puding mangga seharga 6 dollars. Terimakasi, boss! 😙

.

.

.

Sebenarnya, saya nggak berhak kecewa. 🙂

Tugas utama si bibik adalah memasak makan siang untuk anak- anak di sekolah; kami – para guru – diperbolehkan untuk menyantap menu yang sama bareng- bareng dengan mereka, untuk membuat hidup kami sedikit lebih mudah.

Sudah bagus si bibik nyempet-nyempetin waktu buat masakin saya. Namanya juga minta tolong. Err …

Kalau saja saya bilang, “Can you make an omelette for me?”

Mungkin si bibik akan lebih paham.

Dan kalau saya tambahkan embel- embel ‘well done cooked’, si bibik pasti akan lebih faham lagi. Ya paling enggak, saya nggak akan mendapati kuning telur setengah matang yang meleleh- leleh bak lava vulkanik.

.

.

.

Saya memetik pelajaran berharga dari insiden ‘telur yang salah’ ini.

Seolah- olah diingatkan kembali, bahwa sejatinya komunikasi itu berfokus pada pengertian si penerima pesan. Saya perlu menyampaikan spesifikasi yang saya inginkan untuk menyamakan persepsi. Tentu saja, butuh kesabaran dan kerendah hatian untuk bisa menyeberangi pemikiran si penerima pesan. 

Akhir kata, sebagus apapun bahasa yang saya gunakan, kalau si penerima pesan tidak kunjung menangkap yang saya maksud, berarti saya belum berhasil.

Hmm. Ya. Begitu saja.

Akur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s