Duit 

Saya mengklasifikasikan duit sebagai salah satu alat tukar- menukar. Salah satu saja, karena tidak semuanya bisa dibeli pakai duit; contohnya persahabatan, kerja sama, kepercayaan, kesetiaan, pengertian, persaudaraan, dan hubungan baik. 

Punya duit banyak bisa dipakai untuk mentraktir teman makan di restoran mahal, tapi tidak bisa menjamin kelangsungan hubungan baik yang ada. 

Atau bisa saja, punya duit lantas dipakai untuk menyogok pak boss X supaya dikasih posisi Y di instansi BUMZ. Istilahnya, mengunci peluang supaya tidak lari kemana-mana lagi. 

Padahal, yang menentukan gemilang atau tidaknya masa depan adalah etos kerja, bukan posisi yang didapat. 

Lalu, punya duit dipakai untuk berlibur bareng keluarga besar. Saya justru mendukung. 
Tapi yang perlu diingat adalah, kedekatan hubungan sangat bergantung pada kebesaran hati untuk saling menerima dan memaafkan. 

Selama masih menyimpan iri, dengki dan sengketa, ya tidak akan pernah ada kedekatan yang terbangun. 

Males ya? 
Hari gini ngomongin duit. Sayapun enggan. 

Nggak pernah terbersit sekalipun di benak saya untuk ngomongin soal duit, apalagi sampai ditulis di blog. 

Cuma, kali ini saya muak.

.

.

.

Padahal, baru kemarin lusa seorang teman berkata kepada saya, 

“Gini, IQ itu nggak bisa diubah, kalau dari sononya udah jongkok ya jongkok aja. Mikirnya juga nggak akan bisa jauh, boro- boro maju. Ahh, susahlah itu!”

Waktu itu saya menyangkal pernyataannya, tapi sekarang saya justru mengakui kebenaran kata- katanya. 

.

.

.

Susah ngomongin masa depan dengan orang- orang macam begini, karena yang terpola di otak mereka adalah gaji tetap dan kepemilikan asset. Hampir mustahil mengisi otak supaya kaya ilmu dan pengetahuan, karena buat mereka kaya sama dengan punya duit banyak. 

Bisa beli rumah SHM dan mobil. 

Titik. 

Rasa muak saya kemudian disertai oleh rasa kasihan. 

Saya kasihan terhadap kedangkalan cara pandang mereka; sepertinya hanya duitlah yang menjadikan mereka tetap hidup. 

Saya juga kasihan dengan kepicikan pola pikir mereka; karena kemana- mana bawaannya pasti curiga dan tidak aman. 

Ketemu si A lalu insecure, ketemu si B langsung siaga, ketemu si C segera pasang strategi, ketemu si D jaga jarak, ketemu si E iri, bahkan bisa jadi ketemu si F malah ngerumpiin si G. 

Kasihan.

Hidupnya nggak pernah tentram. 

Hatinya selalu berkecamuk.

Pikirannya selalu kotor.

Jiwanya tidak tenang. 

Kasihan.

Mereka lupa, bahwa duit berfungsi untuk menghidupi mereka; bukan malah memfungsikan hidup mereka untuk duit. 

Mungkin saja, mereka hanya bisa merasa kaya ketika duit menjadi satu- satunya benda yang mereka punya. Hingga tutup usia nanti. 

– bersambung –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s