Kung

“Ayo pinarak njobo, Mbah,” kata saya.

Lalu jawabnya, “Wes ono sunlight opo durung?”

.

.

.

Mbah Kung sudah sepuh. 🙂

Sebulan setelah berulangtahun yang ke- 88 Januari lalu, beliau ditinggal pergi oleh almarhum mbah Wedok. 

Sejak itu, Kung jadi lebih banyak diam. Pola kegiatan dari bangun tidur hingga tidur lagi ya itu- itu saja. Ngopi tubruk, nyemil krupuk, mandi sampai kelupaan menutup kran air, sarapan, lalu njinjing dingklik ke lapangan depan rumah untuk merokok. 
Iya, ke lapangan untuk merokok, karena cucu-cucunya kurang bisa mentolerir asap rokok, makanya Kung merokok di luar rumah. 🙂

Kung merokok setiap kali habis makan,  jadi Kung hanya menghabiskan tiga batang rokok sehari. Rokok kesukaannya adalah Djarum Filter isi 12. 

.

.

.

Meskipun giginya sudah bercopotan sejak lama, Kung masih bisa mengunyah nasi putih secara normal. Segala menu mutlak harus berkuah, kalau tidak mana mbah Kung bisa mengunyah? Haha. 

Nah, suatu siang Ibu membawa 10 tusuk sate kambing sepulang kerja, saya dan mbah Kung masing- masing mengambil 3 tusuk. 

Saya amat- amati, kok cara makannya agak aneh … 
Lalu katanya, 
“Bar tak emplok yo langsung tak untal, Nduk. Dadi yo mung after taste ngono.”

Saya terpingkal bukan kepalang!! 😂😂
.

.

.

Pagi- pagi kemarin sehabis Subuh, saya dibonceng Ibu ke makam mbah Wedok. 

Memang sengaja saya minta diantar pagi, sebelum sinar matahari terbit, soalnya nggak mau kepanasan di atas saddle motor. 

Kami kembali ke rumah sebelum pukul sembilan, Kung sudah duduk manis di sofa langsung menanyai saya dengan wajah kuatir, “Kowe soko ngendi, Nduk?”

.

.

.

Saya tercenung. 
Saya melihat sorot kekuatiran yang sama persis diperlihatkan oleh mbah Wedok akibat kelalaian saya mengabarkan perubahan jadwal menginap tahun lalu.  

Sorot matanya seolah- olah berbicara, 

“Mbah sudah tua, kamu jangan kemana- mana lagi.”

Dalam hati saya berkata, 
“Kung, suatu hari nanti saya pasti pulang, tapi yang jelas bukan sekarang.”

.

.

.

Seusai makan malam, saya menjinjing dingklik ke lapangan, menyiapkan tempat merokok untuk Kung. 

Katanya, “Where is the moonlight?”

“Mboten wonten, Mbah,” jawab saya. 

Kami hening berdua. 

.

.

.

Saya memecah kesunyian dan berkata, 

“Suk Minggu dalem wangsul. Mbah Kung kudu tansah sehat nggih, suk Desember nek dalem wangsul ben saged jagongan malih.” 

Kung hanya menggangguk sambil berdehem, “Hmm.”

.

.

.

Sejam kemudian saya mengantar Kung masuk ke dalam dan menemaninya berdoa sebelum tidur. Ucapnya, 

“Onze fader op de hemel, en de zoon en de heilige he heest. Amen.”


– end –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s