Sekarang Minggu. Jangan Sepaneng.

Saya kenal seorang gadis berusia duapuluhan, sekarang ini ia sedang merampungkan kuliah untuk mendapatkan gelar Master.

Suatu hari, si gadis sakit perut tanpa sebab yang jelas; ia berkali- kali keluar masuk toilet melepaskan feces encer.

Disaat yang bersamaan, perutnya juga mual bukan kepalang; katanya sih seperti menahan muntahan yang sulit dikeluarkan.

Tidak berapa lama, suhu badannya meninggi. Ia demam.

Sudah saya kompres dengan ice pack, saya beri Charcoal Pills yang saya beli di 7-11 seberang rumah, dan saya masakin bubur untuk meredam reaksi perutnya yang serba tidak menentu, tapi tetap saja tidak menunjukkan tanda- tanda membaik.

Lalu saya ajak ke klinik seberang rumah, katanya,

“Lusa aja. Saya mau beresin tugas- tugas kuliah dulu.”

Saya tak tahu harus berkata apa. #1

.

.

.

Pagi- pagi ketika saya bangun, saya melihat kupasan kulit jeruk mandarin dan box chicken rice di dalam tempat sampah dapur.

Saya tak tahu harus berkata apa. #2

.

.

.

Sakit perut dan mencret hebat kok makan jeruk mandarin … .

Mual- mual serasa mau muntah kok nelen chicken rice … .

Ya pantes nggak sembuh- sembuh … .

Yang direpotin saya nih … .

Err … O__o

.

.

.

Lusa yang kita sepakati telah tiba. Saya sudah bergegas hendak mengantar si gadis ini ke klinik seberang rumah. Lokasinya dekat banget, jalan kaki nyantai cuma 5 menit, wong tinggal makcrut.

Lalu katanya, “Kita ke Thompson Hospital aja, ke sana pake taxi. Saya nggak mau jalan kaki.” 

Saya tanya, “Itu mahal … , kamu udah nyiapin duit buat bayar?”

Jawabnya, “Pake kartu.” 

Ya sudah.

Yang sakit dia, yang berobat dia, duit juga duit dia.

Saya cuma nganterin.

Kita berangkat.

Sejam kemudian si gadis ini sudah beres diperiksa oleh dokter jaga, ia membayar dan menebus kantong obat yang berisi Charcoal Pills plus penahan mual.

Sekilas saya melihat total bill yang tertera di kertas receipt: $132. 00. 

Saya juga melihat remarks tulisan pak dokter, bahwa ia hanya boleh mengkonsumsi bubur atau sup hangat selama – paling tidak – tiga hari.

Si gadis menyebutkan bahwa ia sempat bertanya pada pak dokter,

“Pak dokter, saya boleh makan jeruk nggak? Saya kepingin … please, Pak … .”  

Sekarang saya tahu harus berkata apa: Bodoh. 

.

.

.

Gadis ini bodoh sekali.

Saking bodohnya sampai ia harus membayar $132.00 untuk advice yang sama persis dari mulut saya.

Saking bodohnya juga, sampai ia harus extend for another three days untuk makan bubur dan Charcoal Pills.

Lebih kasihan lagi, kebodohan yang terlanjur menetap di alam bawah sadarnya itu bukan karena keterbatasan IQ, melainkan karena ia tidak mau belajar memberikan respon yang benar terhadap kejadian- kejadian yang mampir di kesehariannya.

Tulisan “Sampah” di artikel terdahulu hanya satu dari sekian banyak kebodohan yang ia pamerkan, masih banyak lagi kebodohan fatal lainnya.

.

.

.

Saya sempat merenung, kasihan banget saya sampai harus seatap dengan orang sebodoh dia. Sampai akhirnya saya menyadari, mungkin nggak ada lagi orang yang tahan berbagi atap dengan dia selain saya.

Sikapnya yang ignorant dan sok pintar membuat orang enggan melanjutkan bicara dengannya.

Cara bicaranya yang bossy membikin teman- temannya pun jengah disepanjang hangout bersamanya.

Belum ditambah dengan egoism level akut yang dimilikinya.

Kalau nggak suka: langsung buang.

Kecewa dikit: langsung potong bicara.

Merasa disakiti: langsung tebas pertemanan.

Dan cerita hidupnya selalu berakhir sama, merasa dikhianati dan dicurangi teman- temannya.

Lah, drama.

Dia sendiri lupa bahwa dirinya sama sekali tidak merespon situasi dengan benar.

.

.

.

She desires to have friends without being friendly.

 

She demands for respect without being respectful to others.

 

She wishes to be treated well while continuing to mistreat others.

 

She wants to be prioritised with zero care for others.

 

She expects love by staying in her unlovability.

 

Alamak.

.

.

.

Halah.

Sudahlah.

Sekarang Minggu.

Jangan Sepaneng.

Cheers.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s