“Jawa Barat mana euy, Bandung atau …?”

Dua pekan yang lalu, saya pergi makan bersama beberapa teman. Setelah mempertimbangan jarak tempuh, waktu antri, dan ragam pilihan makanan, kami sepakat memilih Aston. Sembari menunggu makanan dihidangkan, seorang teman yang duduk di sebelah kiri saya mengucap,

“Eh pada denger nggak, GO-JEK udah dilarang beroperasi di Jawa Barat!”

Satu-dua orang yang duduk berseberangan merespon dengan gumaman pendek.

Saya spontan saja bertanya,

“Jawa Barat mana euy, Bandung atau …?”

Belum selesai saya bertanya, si teman ini cepat-cepat memutus dengan jawaban,

“Bandung itu ibu kotanya lah! Jawa Barat itu Sumedang, Cimahi, gitu!” 

Dia mengucapkannya dengan ekspresi jengah dan kesal.

Seketika itu pula saya diam dan tidak berkata apa- apa lagi di sepanjang waktu makan, kalaupun perlu merespon, saya memilih untuk menoleh ke arah kanan atau ke seberang meja. Saya hanya ingin cepat- cepat menyelesaikan makan dan pamit pulang.

.

.

.

Dalam konteks ini, ada beberapa variabel yang perlu diperhitungkan.

  1. Saat itu saya memang sedang dalam kondisi yang sangat lelah; jangankan untuk tidur, untuk menyelesaikan pekerjaan dan tugas- tugas kuliah saja saya musti sangat telaten mengatur waktu. Dalam kondisi seperti itu, hal yang kecilpun bisa menyulut akibat besar. Bisa saja.
  2. Saya ingat betul bahwa saya bertanya dengan sopan; maka tidak selayaknya saya direspon dengan ekspresi jengah dan sebal. Dalam berinteraksi dengan sesama, ada yang namanya hormat dan penguasaan diri. Mungkin si teman ini sedang lupa. Mungkin saja.
  3. Respon yang diperlihatkannya begitu menohok harga diri saya, hingga membuat saya berpikir tentang perbedaan ras; dan dalam konteks ini saya adalah minoritas, saya adalah satu- satunya. Bisa jadi, dia menganggap orang- orang dari ras saya tidak seintelek ras dia, lalu membuatnya merasa pantas merespon sedemikian rupa. Bisa saja.
  4. Secara ilmu pengetahuan, sebenarnya dia salah. Tapi saya sudah terlanjur malas untuk membenarkan.

 

Peta Jawa Barat, Peta Jalan

Peta Jawa Barat Lengkap Dengan Daftar 18 Kabupaten dan 9 Kota.png

 

Jawa Barat (seperti halnya Jawa Tengah dan Jawa Timur) memliki dua sudut bahasan yang berbeda.

Secara geografis, Jawa Barat adalah sebuah provinsi yang terletak di bagian barat Pulau Jawa, letaknya bersempadan dengan provinsi Banten. Mengacu kepada asumsi geografis, bahkan Jakarta pun masih bertitik di wilayah Jawa Barat. Sedangkan secara administratif, Jakarta berdiri sendiri sebagai Daerah Khusus Ibukota alias DKI.

Jawa Barat itu luas, ada belasan kabupaten dan kota- kota, termasuk Depok, Bekasi, Karawang, Sukabumi, Bogor, dan Bandung sebagai si ibu kota. Di lain pihak, saya tahu betul bahwa GO-JEK lancar beroperasi di area Depok, Bekasi, Karawang, Sukabumi, Bogor tanpa kendala yang signifikan.

Pertanyaan yang saya lontarkan di obrolan meja makan itu bersifat klarifikatif. Artinya, saya perlu tahu sudut persepsi si lawan bicara sebelum melanjutkan pembicaraan.

Dalam konteks ini, jelaslah saya perlu memastikan area jawa Barat mana yang sedang dia bicarakan. Sayang sekali dia terlalu cepat jengah untuk memutus; akibatnya, hanya segitu saja yang mampu dia bawakan. Padahal, kalau dia bisa menaruh hormat terhadap lawan- lawan bicaranya, ia pasti akan mampu membuka pikirannya sedikit lebih lebar untuk menerima pengetahuan baru.

Setidaknya, kita lalu akan bisa membandingkan, kenapa GO-JEK bisa beroperasi lancar di area Jakarta, Depok, Bekasi dan sekitarnya; namun tidak dengan area Bandung, Sumedang, Cimahi, dan sekitarnya.

Mungkin- mungkin kita lalu bisa memasukkan unsur regulasi dan kultur ke dalam obrolan tentang GO-JEK ini, membandingkan konten pro dan kontra- nya, sehingga wawasan obrolan menjadi lebih luas dan bermakna.

.

.

.

Tahu tidak,

kebenaran ilmu pengetahuan yang saya peroleh tidak mampu menjustifikasi perasaan direndahkan akibat respon yang dia perlihatkan; meskipun telah diverifikasi oleh data tertulis di lembar Ensiklopedia dan seorang sahabat yang bekerja sebagai ahli peta di Jakarta, ditambah saya sendiri pernah menetap selama 6 tahun di Bandung.

Perasaan ‘dibego-begokan’ itulah yang membikin saya research data tentang pembagian wilayah di Jawa Barat. Dengan harapan, kalau memang saya yang bego, ya nggeus wae, sok mangga saya terima dengan lapang dada.

Ternyata dia yang salah dan sayalah yang benar, pun perasaan ‘dibego- begokan’ itu masih berdengung hingga berhari- hari lamanya.

Dalam keadaan serba letih, respon yang dia berikan adalah peluru ampuh yang melumpuhkan saya, memukul saya secara mental, dan melukai nurani saya sebagai seorang pribadi.

Si teman itu mungkin tidak pernah tahu dan tidak pernah menduga, kalau benih kecil yang dia jatuhkan secara acak telah menghantam saya sedemikian rupa. Mengingat ini bukan kejadian pertama, mungkin ia juga tidak pernah tahu, sudah ada berapa pribadi- pribadi lain yang terluka akibat caranya merespon dalam pembicaraan.

Untuk saya pribadi, kelumpuhan mental ini mempengaruhi produktifitas otak, menciutkan energi, membantatkan potensi, membikin mandeg performa kerja juga kuliah.

Ya memang benar, hati adalah sumber dari kehidupan yang saya pancarkan. Ketika hati saya terluka, akan banyak aspek di kehidupan saya yang kemudian terimbas.

Saya akan sembuh, hanya tidak akan akan cepat.

Saya tidak akan membenci dia, hanya saja saya perlu menempatkan ia di rentang jarak yang lebih jauh, dan saya pastikan cukup jauh untuk menjangkau, apalagi sampai melukai saya. Paling tidak, itulah yang saya lakukan untuk menjaga kesehatan hati saya.

.

.

.

Pelajaran Penting

Ketika berbicara dengan orang lain, berlatihlah untuk memberikan respon yang sopan; kalau bukan untuk menghormati si lawan bicara, setidaknya taruhlah standar terhadap cara kita membawakan diri.

Attitude kita dalam membawakan diri memberikan peran yang jauh lebih besar ketimbang konten yang kita sampaikan. Non- verbal (contohnya: kerutan dahi, sorot mata), gestur, dan intonasi kita saat bicara mampu membelokkan interpretasi bahasan ke arah yang sebenarnya tidak pernah kita rencanakan; disaat seperti itulah kesalah pahaman berpotensi untuk terjadi. Dan realitanya, tidak akan banyak orang yang punya cukup energi untuk mengoreksi situasi tersebut. Lagipula, semua orang ingin dihargai keberadaanya, tidak akan ada yang suka diperlakukan seperti itu. 🙂

.

.

.

Semalam saya tidak sengaja berpapasan dengannya di lantai 3. Ia terlihat agak letih, mungkin energinya banyak terkuras untuk menggebuk drum sepanjang ibadah tadi. Saya tersenyum dan menyapa sekedarnya lalu melanjutkan berjalan menuju eskalator untuk pulang ke rumah.

– tamat –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s