Kampus Lama

Saya kangen kampus lama.

Kampus lama yang ada di seberang UOB Tower  di area Raffles City.

Kampus lama yang kelasnya selalu dimulai tepat waktu pukul 7 petang dan break time- nya tidak pernah lebih dari 15 menit.

Kampus lama yang petugas adminnya senantiasa sigap melayani kebutuhan para mahasiswa meskipun sudah lewat pukul 8 malam. Mereka tidak songong dan rendah hati meminta maaf kalau kedapatan salah memforward jadwal kuliah.

Kampus lama yang student portal- nya user friendly dan selalu updated; tidak berbelit- belit soal birokrasi, karena elemen admin, dosen dan mahasiswanya saling terhubung aktif.

Kampus lama yang kultur institusinya kondusif; yang entah bagaimana menjelaskannya, kami- kami di kelas mengerti bahwa budaya saling menghargai dan menghormati harus dipelihara dan dilestarikan.

Kampus lama yang dosen-dosennya jauh dari bias dalam berinteraksi dengan para mahasiswanya. Kerja mereka juga efektif dan efisien, perlu 3 minggu saja untuk mengoreksi lembar- lembar ujian essay, paling lama mundur sebulan.

.

.

.

Saya benar- benar menikmati perkuliahan yang saya jalani di kampus lama. Setiap sessionnya selalu saya nanti-nantikan. Challenge- challenge konstruktif yang dipaparkan memintarkan otak dan pemikiran saya. Prosentase makhluk pembawa ilfil pun hanya 15% dari keluasan ekosistem.

 

***

 

Beda sekali dengan kampus tempat saya sekarang berkuliah.

Bedanya lebih dari 90 derajat, malah mungkin mendekati derajat 160.

Kampus yang katanya tempat mencetak tenaga pendidik ini berisik dan riuh.

Standar saling menghormati dan menghargaipun subjektif terhadap kultur yang dianut ras mayoritas mahasiswanya. Parahnya, duduk dan ngobrol berkelompok adalah bagian hidup kultur ras mayoritas tersebut. Etos kerja standar juga bagian dari kultur hidup ras tersebut. Waktu break 20 menit juga tidak menyetop mereka dari kebutuhan makan nasi lemak dan Mac & Cheese di tengah- tengah perkuliahan. Sepertinya mereka sulit menghargai waktu dan energi orang lain. Bisa jadi, karena mentalitas yang sudah mendarah daging akibat jaminan dibayar stabil sampai usia pensiun meskipun tidak perform di tempat kerja.

3 dari 5 dosen yang mengajar sering telat mengupload materi kuliah. Materi kuliah nanti malam bisa- bisa baru diupload 1 – 2 minggu lagi, itupun kalau beruntung. Akibatnya, cuma heading saja yang menghiasi dinding student portal.

Mengoreksi lembar ujian yang cuma berisi pilihan ganda pun perlu paling tidak 3 bulan. Itupun diinput oleh admin menggunakan sistem auto computerisation, dan untuk kapasitas kelas yang cuma 20 orang mahasiswa.

Urusan birokrasi harus melewati banyak lapis meja dan kepala, dengan hasil yang tidak terjamin. Kantor admin tutup pukul 5, sementara kelas baru mulai pukul 6.30 petang. Entah logika kerja dari sekte mana yang diterapkan di kampus ini.

Baru 3 bulan saya menjalani perkuliahan di kampus ini, dan sejak bulan pertama saya sudah berandai- andai, kalau saja penanggalan setahun kedepan bisa dilenyapkan, supaya hari kelulusan saya di pertengahan Mei 2019 segera datang.

Awalnya, saya hendak menaruh Swasta vs Negeri untuk menjuduli tulisan ini, atau Swasta vs Pemerintah. Buat saya sih, dua elemen di atas sangat kokrit untuk diperbadingkan. Tapi lalu saya ingat, bahwa tidak semua institusi swasta itu supportif, dan tidak semua institusi negeri itu brengsek.

Doa saya cuma satu, semoga saya tidak ketularan brengsek. Berdoa dimulai.

 

-end-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s