Ibu Kos, Embak, Dan Saya #1

Di Singapur, semua bangunan flat yang sudah berumur 30 tahun akan dikenakan program upgrading, bahasa teknisnya: Home Improvement. Lebih spesifik lagi, bagian rumah yang diperbaharui adalah kamar mandi. Cost-nya disubsidi 50% oleh pemerintah, jadi penghuni flat hanya membayar separuhnya. Nah, flat yang saya tempati termasuk ke dalam kategori tersebut.

Jadi, sejak tanggal 1 Maret, kedua kamar mandi di flat yang saya tinggali dirobohkan untuk diganti yang baru.

Ya temboknya, pipanya, bahkan sampai ke ubin-ubinnya.

Pengerjaannya akan selesai tanggal 12 Maret. Yak benar, masih 8 hari lagi.

Selama period itu, kami- kami harus mencukupkan diri mandi menggunakan portable toilet yang dimensinya tidak lebih besar dari Pintu Kemana Saja -nya Doraemon, dan hanya bisa digunakan dari pukul 6 sore hingga pukul 8 pagi.

Atau kalau tidak sungkan, ya turun ke bawah untuk mandi di kamar mandi umum yang disediakan khusus selama period renovasi.

Repotnya seperti apa? Haha, cukup kami saja yang merasakan, kalian tinggal baca saja. 🙂

Selama period renovasi ini, praktis rumah tidak bisa berfungsi normal. Pasalnya, design kamar mandi dan dapur di semua flat di Singapur itu dipusatkan di titik yang sama, karena pengaturan pipa-pipa airnya vertikal, alias dari flat paling atas ke flat paling bawah.

Jadi, selama period renovasi, dapur juga tidak bisa pakai. Boro-boro masak, cuci tangan saja mustahil.

Seluruh rumah ditutup dengan plastik, semua perabot dan furnitur dibungkus plastik rapat-rapat supaya tidak berdebu.

.

.

.

Tahu tidak apa yang kami rasakan selama beberapa hari ini?

Anxious dan stress.

Segini ini dengan subsidi pemerintah lho.

Nggak kebayang kalau kami harus menanggung full cost plus full stressnya sekaligus.

.

.

.

Kami anxious karena akses air di rumah diberi limit.

Kami stress karena keadaan fisik bangunan rumah yang luar biasa berantakan.

Kami memang tidak urun tenaga merampungkan pengerjaan renovasi, tapi hanya dengan melihat saja, sudah cukup menstimulasi neuron otak untuk selalu siaga.

Rasanya otak sayapun selalu spiking.

Sulit untuk dibawa rest.

.

.

.

Namun, di tengah semua ke-chaosan ini, ada satu hal yang sangat saya syukuri; dan rasanya patut untuk dideklarasikan, yaitu kami semua tetap bersama: ibu kos, embak, dan saya.

Ibu kos saya ini sudah berusia 64 tahun. Dia memiliki empat orang anak yang semuanya sudah mapan berumah tangga. Kalau dia mau, dia tinggal pilih satu dari empat rumah anak-anaknya untuk ditinggali sementara waktu. Pastinya, embak juga bakal diajak bersama dia. Sudah, beres. 🙂

 

Tapi dia memilih untuk tetap tinggal. 🙂

Dia tidak mau membiarkan saya kacau seorang diri.

 

Dia mengklaim tanggung jawabnya untuk melindungi saya. Bahkan ketika saya sudah mempersilahkan dia untuk mengungsi ke rumah seorang dari empat anaknya, dia dengan tegas menolak dan berkata tidak.

.

.

.

Saya ini rasanya terlalu dikasihi Tuhan, sampai Tuhan mengijinkan saya tinggal dengan orang sebaik dia, yang memproteksi saya hingga sedemikian rupa. 🙂

Saya cuma dikenakan harga sewa yang jauh dibawah standar pasar, dianggap seperti anak sendiri, dan diperlakukan layaknya anggota keluarga.

Tempat ini benar-benar rumah untuk saya.

Terharu saja saja tidak cukup untuk mengungkapkan perasaan saya.

Dan sebenarnya Ibu kos benar.

Sangat benar.

Saat- saat sulit seperti inilah yang membikin hubungan kami lebih erat, lebih menghargai waktu-waktu yang kami miliki bersama, dan lebih menghormati keberadaan satu dengan yang lain.

Baru kali ini saya menyadari, bahwa rumput halaman rumah saya lebih hijau dari rumput halaman rumah tetangga.

Karena kami siram, rawat, dan jaga bersama- sama.

Ya Ibu kos, embak, dan saya. 🙂

. . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s