Ibu Kos, Embak, dan Saya #2

Sudah sejak seminggu yang lalu kami- kami di rumah menikmati kamar mandi baru. Ya Ibu kos, embak, dan saya. 🙂

Meskipun sisa-sisa penat di otak masih harus harus diurai, tapi kami sangatlah bahagia. Ternyata, sebegini berartinya keberadaan kamar mandi untuk kelangsungan hidup kami.

 

Wah, Haleluya Puji Tuhan.

Itu saja yang bisa saya ucapkan. 🙂

 

Di tengah-tengah period renovasi, Ibu kos bilang, “I’m going to IKEA to buy rain shower for us.” 

 

“For us.”

 

Itu artinya, kamar mandi belakang yang biasa saya pakai dengan embak juga bakal dikasih rain shower! Wow!!

Jadi, sekarang saya bisa bershower galau macam adegan-adegan drama korea gitu loh! Sambil nyender ke tembok dan kepala menengadah ke atas gitu lah! Hahaha! Haseek! :))

 

p1000620.jpg

Ini lho penampakan rain shower. Aduhai kan?! :))

.

.

.

Sekarang, rumah sudah bersih, sudah divacuum dan disteam berulang-ulang. Pokoknya, sudah kembali seperti sedia kala berkat embak.

Ya, embak memang kadang ngaco, tapi tanpa embak siapa yang bakal bersih- bersih coba? Wong Ibu kos sudah berumur, sementara saya tiap hari pulang tengah malam.

Nah, untunglah ada embak. 🙂

.

.

.

Sebenarnya ya, saya mensyukuri kedekatan kami bertiga lebih dari eksistensi kamar mandi baru ini. Pasalnya, period renovasi kemarin telah berhasil memperbaharui pola pikir saya untuk lebih menghargai hal- hal sederhana yang ada di keseharian saya. Contoh yang paling dekat ya Ibu kos dan embak.

Sebenarnya ada satu orang lagi, yaitu bibik sekolah. Si bibik sekolah menjadi katering temporer saya untuk menjamin ketersediaan sayur rebusan selama period renovasi rumah. Sementara Ibu kos dan embak memanfaatkan period itu untuk wisata kuliner sambil menghibur diri. Jadi, mereka menyusun itinerary jadwal makan; pagi mau sarapan di mana, siang mau makan apa, malam mau nyobain lokasi mana. Gitu! Haha! :))

Nah, tepat sesudah renovasi beres, Ibu kos mentraktir kita-kita makan di Bali Thai dekat rumah. Katanya, “Let’s go! We must celebrate this!” :))

Hah … , benar- benar period yang penuh pelajaran.

Belajar sabar dan mengontrol stress di level yang berbeda, sementara di saat yang bersamaan tetap harus perform di tempat kerja dan kuliah, di tengah pikuknya batasan jam mandi, plus kondisi rumah yang setengah mati berantakan.

 

Dan sesudahnya, bond kami jadi makin kuat. 🙂

 

Level hormat saya kepada Ibu kos kini telah naik lebih tinggi, sementara penghargaan saya terhadap keberadaan Embak pun jadi lebih baik. Saya lebih sabar mengajari dan lebih peka saat perlu mengoreksi pekerjaan si Embak.

Saya benar- benar nggak percaya bisa tinggal bersama orang- orang seperti mereka, yang baik dan tulusnya benar- benar nyata. 🙂

-Tamat-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.