MIKE

Mike adalah satu dari segelintir teman yang kenal saya dengan baik. Mike itu jujur dan tulus. Dia nggak pernah pura- pura setuju atau sengaja diam untuk menyudahi argumen atau sekadar menyenangkan saya. 

Mike juga murah hati dan humanis. Dia itu seorang penyedia dan pekerja keras. Dua nilai hidup ini dia pelajari dari teladan almarhum Engkongnya. Mike sangat bangga dengan almarhum Engkong. 

Mike adalah satu dari beberapa yang percaya dengan kegigihan saya menghidupi panggilan sebagai seorang pengajar. Mike bahkan nggak jemu mewanti saya untuk segera menunjukkan business plan pre-school impian saya, karena Mike kepingin terlibat di dalamnya. 

Mike paham bahwa saya tidak menyukai keramaian. Dia mengerti betul bahwa kuota meja makan saya terbatas untuk 3-4 orang yang saling konek. Mike juga pendengar keluh kesah saya, via online maupun offline, tentang apa saja. Dari soal galau pergerejaan hingga soal romance dengan lawan jenis, dari soal bank account hingga prosedur dengan Dinas Tenaga Kerja. Mike bisa menghargai buangan sampah otak saya dan menutupnya sampai di situ saja. 

Mike adalah sosok teman yang bisa menenangkan saya dan berkata, 

“Berarti dia bukan orang yang tepat buat elu, Saras.” 

Atau, 

“Berarti elu-nya yang harus berubah. Kalau lu mikir kayak gitu terus, lu sendiri yang rugi.” 

Atau,

“Gua sih percaya ya, nggak ada kerja keras yang berakhir sia-sia. Karena itu udah gua buktikan sendiri selama gua hidup.”

Dua baris terakhir itulah yang sering dia ucapkan ketika saya komplain tentang betapa capeknya melanjutkan kuliah di Seed tepat seberes kuliah di CAE. 

.

.

.

Senin lalu saya What’sApp Mike, saya bilang, 

“Tar sore lu free tak, Mike? Seberes kerja gw mau ke kampus lama di deket Raffles MRT, maju dikit udah City Hall. Ke Simply Wrap yu.”

Jawab Mike, 

“Yoi. Wadhu. Hari ini gw kayaknya lembur, Saras.”

Kurang dari 24 jam kemudian saya menerima berita bahwa Mike meninggal dunia karena mobil yang ditumpanginya di Bishan dihantam minibus. 

.

.

.

Saya nggak bilang kalo saya mau nunjukkin ijasah kelulusan saya dari CAE. Saya juga nggak bilang kalo saya pingin merayakan sampainya ijasah ini di tangan saya bersama Mike. Saya nggak bilang kalau saya mau berterimakasih karena sudah menyemangati saya kuliah sambil kerja. Saya pikir, saya mau surprisin Mike. 🙂

 

“Mungkin, seharusnya saya bilang.”

 

Mungkin kalau saya bilang, Mike akan mundurin lemburan ke hari berikutnya. 

Mungkin sesudah makan di Simply Wrap, Mike akan langsung pulang, langsung istirahat, dan nggak akan ada skenario trip ke Bishan pagi- pagi buta. 

Mungkin. 

.

.

.

Sehari sesudah Mike meninggal, saya menerima text dari seorang teman di Jakarta. 

Katanya, 

“God plans everything best.”

Jawab saya, 

“I know. I just do not want to hear the rest.” 

.

.

.

*Ditulis 14 April 2018 untuk almarhum Michael Jonathan. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s