Ketersinggungan

Sudah lama sekali saya tidak berurusan dengan singgung- menyinggung, baik di konteks kerja maupun pergaulan. Apalagi dengan tuntutan untuk bergerak serba cepat dan pasti akurat, saya rasa saya sudah nggak punya ruang untuk ketersinggungan, karena itu cuma akan menghambat laju progress saya, khususnya di pekerjaan. 

Saya justru lebih banyak memberikan ruang untuk toleransi. Kalau ada perbedaan persepsi ya dibicarakan bersama. Kalau ada ganjalan, ya didiskusikan di forum, atau langsung diomongkan dengan individu yang bersangkutan. Menurut saya, itulah esensi kerja tim yang produktif.

Sayangnya, di negara semaju inipun, masih banyak orang- orang yang gemar drama ketersinggungan. Mungkin mereka kebanyakan nonton serial Tanglin, ini semacam sinetron Tersanjungnya Lulu Tobing dan Jihan Fahira di SCTV dulu itu lho. 

Atau, Beverly Hills dan Melrose Place digabung jadi satu. Nah, kayak gitulah kira- kira. 

Drama. 

Iya. Drama.

Karena radar ketersinggungannya sudah di luar akal sehat manusia – paling tidak akal sehat saya sih. Misalnya, tersinggung dengan cara seseorang melipat tangan, menaikkan alis, menggerakkan bola mata, atau bahkan cara berdehem, tertawa, dan bicara. 

Astagfirullah. 

Kasihan sekali si seseorang itu. 

Kasihan dua kali karena si seseorang itu ya saya sendiri. Sepertinya, meskipun saya dikutuk menjadi batu pun tetap akan menimbulkan episod ketersinggungan baru. 

Tapi sebenernya, saya justru lebih kasihan dengan populasi orang- orang dengan level ketersinggungan akut ini. Karena kasihannya memang beneran. Kasihan banget. Kasihan tiga kali.

Mereka itu lebih rentan dari akar toge. Ibaratnya nih, kena toel telunjuk saya doang bakal langsung terluka dan jatuh terjerembab. Lalu menjerit berdarah- darah dan teriak minta ambulans. 

Drama banget kan? Tapi itu terjadi. :)))

Kasihan empat kali karena mereka jadi nggak bisa dibawa maju. 

Ya gimana mau diajak maju kalau dikit- dikit tersinggung. Ditegur cemberut, dikoreksi nggak terima, jadi susah banget diajarin skill baru. Boro- boro mengubah cara pandang. Hah. Berat. Berat banget. Lebih tepatnya, complicated. 

Coba nonton blunder percintaan di serial Tanglin deh. Nah, mungkin bakal lebih gampang ngerti. :)))

.

.

.

Drama ini sudah berlangsung selama kurang lebih enam bulan, sejak Januari hingga Juni. Kenapa bisa selama itu? Karena orang- orang yang tersinggung memilih untuk tidak membicarakannya dengan saya. 

Alih- alih, mereka malah justru membicarakannya dengan pihak lain, seolah cara melipat tangan, menaikkan alis dan menggerakkan bola mata adalah prosedur yang bisa diseragamkan.  

Sejujurnya, saya cukup shock. Apalagi di saat yang bersamaan, saya ditinggal mati teman baik dan dikabari bahwa badan mbah Kung lumpuh akibat serangan stroke. 

Perasaan saya bercampur nggak karuan. Antara kaget, merasa sendiri, tersudut di dalam ruang gelap, dimanipulasi, dan dilangkahi. Bingung sekali, menyaksikan muatan personal yang dibawa ke dalam konteks pekerjaan. Nggak tahu harus berbuat apa ketika mendapati kesalahpahaman seolah sengaja ditumpuk untuk diledakkan, ketimbang diurai untuk diselesaikan. Tanpa saya sadari, serangan shock ini membawa saya tertekan lebih dalam, yaitu depresi.  

Perlu dua bulan untuk mengartikulasikan shock yang saya alami, untuk kemudian menyadarkan diri sendiri bahwa saya limbung akibat shock ini, secara fisik dan mental. 

Saya kehilangan gairah untuk berurusan dengan manusia lain. Saya bahkan bisu terhadap hal- hal yang biasanya saya sukai seperti photography dan #ceritamblo. Berbulan- bulan saya memilih untuk diam di dalam ruang empat dinding. 

Ditambah, perlu seminggu menyendiri di Bandung untuk mengakui dengan penuh kerendahan hati bahwa saya depresi. 

Di Bandung, saya bertemu dengan teman- teman lama, mengingat kembali kemenangan- kemenangan kecil di masa lalu, lalu menyadari betapa kami telah  bertransformasi menjadi versi manusia yang jauh  lebih baik. Itulah yang kemudian mengembalikan rasa syukur dan semangat saya untuk melanjutkan hidup.  

Jadi officially, baru bulan inilah kesegaran otak dan pikiran saya kembali waras. 

.

.

.

Sejak ketersinggungan ini mencuat, saya terus berusaha memperbaiki keadaan. Saya menjadi sangat extra hati- hati dengan cara saya membawa diri. Cenderung agak paranoid, karena saya nggak ingin ketersinggungan melebar dan berakibat terhadap performa kerja mereka. 

Mereka lho ya, bukan saya. Saya sih confident dengan apa yang saya kerjakan. 

Tapi mereka belum bisa mencapai level saya, makanya masih perlu dibantu dan disupport dari depan dan belakang. Cuman mereka sama sekali nggak menyadari, karena saking sibuknya mreteli urat- urat ketersinggungannya. 

Lalu saya research tentang ketersinggungan. Kenapa orang bisa tersinggung, tapi kenapa juga hanya sebagian yang tersinggung dan sebagian lainnya tidak. Research ini membawa saya ke vlog Mikir- nya Pandji tentang Komedi dan Ketersinggungan, YouTube stand up comedy- nya Barry Williem yang tentang komunitas musang, dan yang paling baru adalah The Daily Show- nya Trevor Noah yang membahas layangan surat dari dubes Prancis gara- gara Noah bilang “Africans won the World Cup”. 

Link ketiganya adalah sbb: 

Benar, ketiganya adalah comedians. 

Sisi kontras yang hendak saya tekankan adalah, bahkan dalam konteks komedi pun orang- orang masih bisa tersinggung. Apalagi di konteks lain yang lebih serius seperti pekerjaan, politik, dan agama. 

Saya tonton berulang- ulang, saya dengarkan, catat, dan cerna baik- baik, sampai saya sadari bahwa ketersinggungan itu ada di bawah kendali masing- masing individu. 

Si individulah yang memutuskan bakal tersinggung atau tidak. 

Logikanya nih, kalau cara saya melipat tangan, menaikkan alis dan menggerakkan bola mata itu kasar dan melanggar etika, kenapa cuma 2 dari 10 orang saja yang tersinggung? Kenapa 8 sisanya enggak?

Lalu soal cara berdehem, tertawa dan bicara. 

Wah, saya juga sering nggak nyaman dengan cara mereka berinteraksi yang lebih mirip arena gelut kusir. Hanya karena saya nggak pernah meng- highlight ketidaknyamanan saya, bukan berarti mereka semuanya benar juga keuleus. 

Tapi ya sudah, saya menerimanya sebagai keragaman dan perbedaan. Sesederhana itu. 

Ada yang bilang ke saya,

“Kamu juga harusnya ngomong kalau merekapun kasar ke kamu.”

Tapi lha … buat apa … .

Lagian … enggak aja gitu lah … .

Kayaknya kok bukan gitu cara kerja yang benar. 

.

.

.

Seiring dengan berakhirnya Juni, saya menyadari bahwa saya nggak perlu terlibat dengan blunder pemikiran sempit orang- orang ini. Saya juga nggak perlu merasa bertanggung jawab dengan ketersinggungan mereka. 

Nggak ada lagi paranoid- paranoid dalam bicara. Kalau salah ya salah, kalau benar ya benar.

 

Justru sayalah yang salah kalau mendiamkan sesuatu yang salah terjadi. 

Saya nggak perlu bertanggung jawab atas perasaan orang lain. Itu kan ada di bawah kendali masing- masing individu. Tapi, saya perlu lebih awas dengan apa yang hendak saya ucap dan perbuat, saya harus memastikan semuanya benar dan beralasan kuat. Jadi ketika ada pihak ketiga yang mendramakan ketersinggungannya, saya bisa menjelaskannya. Gitu aja. 

Saya juga perlu lebih sensitif dengan gelagat ketersinggungan sekitar. Kalau beralasan dan perlu ditanggapi, ya saya klarifikasi seketika itu juga. Kalau enggak, ya nggak usah. Karena faktanya, nggak semua ketersinggungan pantas mendapatkan waktu dan respond saya. 

Ini bukan tentang bersikap arogan. Ini justru lebih objektif dan sehat untuk kelangsungan mental saya. Dan justru karena saya percaya diri dengan nilai- nilai hidup yang saya pegang dan yakini kebenarannya, ditambah saya juga nggak melihat ada yang salah dengan cara saya menjalaninya, ya saya nggak perlu bimbang lagi. Apalagi sampai paranoid lagi. Dijauhkanlah.

Akhirnya, di bulan ini saya memutuskan untuk meninggalkan mereka- mereka yang terlalu sensitif dengan ketersinggungan. Meninggalkan dalam artian nggak ingin lagi peduli dengan drama receh ketersinggungan mereka. Apalagi sampai terlibat. Amit- amit. 

Saya tidak akan mengkompromikan progress kerja dan potensi tim hanya karena drama ketersinggungan. Kalau mereka memang bahagia tersinggung, ya silahken saja. Itu hak asasi mereka sebagai manusia. Dan sebagai manusia yang bermartabat, saya menghormatinya. 

Sejujur dan sesederhana itu saja saya berpikir. 🙂 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s