Wong

Dalam konteks ini, “wong” diartikan sebagai “manusia hidup”. 

Settingannya bisa macam- macam; bisa keluarga, tim kerja, grup pertemanan atau organisasi. 

Mengurusi ‘wong’ itu nggak mudah, jauh dari gampang, dan bisa dipastikan menguras waktu dan energi. Apalagi kalau kita mengurusi wong-wong di beberapa setting yang berbeda. 

Attitudenya berlainan, kebutuhannya tidak sama, pendekatannyapun berbeda. 

Yang paling melegakan adalah ketika wong yang saya urusi responsif, mau mendengarkan, bersedia diajari, dan menunjukkan usaha untuk berubah. Soal hasil mah, nanti saja.  

Itu skenario ideal. 

Harapan semua mentor. 

Sayangnya, kemungkinan terjadinya sangat kecil. 

Bisa terjadi, tapi kuecill. 

Ketemu 1 dari 20 saja saya anggap mukjisat. 

.

.

.

Sebenarnya, saya sedang meledak ingin marah. Tapi saya sedang nggak punya waktu untuk marah. Ada buanyak tumpukan pekerjaan yang harus saya selesaikan secepat mungkin, karena tenggatnya cuma tinggal hitungan hari. Saya bahkan menutup ruang untuk capek. Saya perlu ruang selebar mungkin untuk mengurai semua tenggat. 

Ini hanya satu dari sekian banyak kekacauan yang harus saya benahi akibat wong-wong yang tidak becus kerja. 

Nggak becus kerja bukan karena nggak diajari, tapi karena nggak mau belajar. 

Merasa paling pintar dan serba tahu, padahal bodoh dan brainless. 

Tingkat kemalasan dan kelambanannyapun sudah di luar akal sehat. 

Common sense pun menjadi paling uncommon untuk wong- wong ini. 

Malas, lamban, sok pintar, sok tahu, dan nggak becus kerja. 

Kombinasi yang sempurna. 

Sudah sejak lama ingin saya jedotkan kepala wong-wong ini ke tembok beton. 

Siapa tahu, gobloknya rontok. 

.

.

.

Wong- wong seperti ini, saya nggak ngerti bagaimana pola pikirnya, karena malas itu nggak pernah berdiri sendiri. Pasti diikuti dengan ignorant, egoistic, stupidity, dan arrogant. Pasti. 

Kalau nggak percaya, mulai aja kalian amati wong- wong pemalas di sekitar kalian. Yang begini mah udah paketan. 

Karena malas, pekerjaan jadi nggak beres. Yang menyelesaikan siapa? Ya orang lain. 

Karena malas, ignorant untuk belajar, skill dan understanding juga nggak naik- naik. Akibatnya? Ya awet bego. 

Karena malas, neuron otaknya sudah terlanjur renggang. Sulit untuk dirapatkan kembali karena nggak mau, bukan karena nggak bisa. Kemudian arrogant untuk menerima nilai- nilai baru.

Maunya, semua seperti lagu Krisdayanti,

“Yang kumau ada dirimu, tapi tak begini keadaanya … . ”

Jadi sangat sulit diajari untuk mengerti perspektif pihak kedua dan ketiga. Sementara kita semua tahu, wong satu dengan yang lain itu saling terhubung. 

Jadi, kalau wong 1 malas, akan berakibat pada wong 2, dan seterusnya.

.

.

.

Sudah. 

Nyerah saya. 

Energi saya tinggal lima bar. 

Saya serahken kepada Tuhan Maha Kuasa saja.

Saya rasa, Beliau jauh lebih tahu bagaimana menyelesaikan ini. 

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s