Gerimis dan Hujan

Sewaktu saya masih kecil, almarhum mbah wedok sering bilang, “Wis grimis nduk, sedelok ngkas udan. Ojo dolan- dolan. Sesuk wae.” 

 

Saya dengarkan. 

Saya menunggu sambil melongokkan kepala dari jendela. 

Lalu benar- benar turun hujan. 

Saya batalkan main ke lapangan. 

.

.

.

Andaikan, 

apabila, 

kalau saja, 

gerimis selalu turun sebelum hujan. 

Menyenangkan sekali. 

Saya bisa mengantisipasi, menyiapkan jas hujan atau payung dari rumah supaya tidak kebasahan. Saya bahkan bisa mengubah mode transportasi bepergian untuk melindungi barang bawaan supaya tetap kering. Atau, kalau nggak akut- akut banget, saya malah akan menjadwal ulang urusan pergi keluar. 

 

“Karena pada dasarnya, saya nggak menyukai kebasahan air hujan.”

.

.

.

Cuman, seiring saya tumbuh besar, saya juga makin mengerti, bahwa gerimis tidak selalu diikuti hujan. 

Kadang berlaku sebaliknya, kadang pula hujan deras turun atau berhenti tiba- tiba. Kalau lagi apes banget, turunnya pas saya sedang naik motor dan berhenti di lampu merah. Badan basah, gadget pun basah.

 

Ketika saya renung- renungkan lagi,

gerimis dan hujan ini layaknya hidup yang saya jalani. 

 

Saya sering dikasih printilan- printilan masalah kecil, ada yang meletus silih berganti, ada yang meletus bertubi- tubi bak petasan cabe rawit. Saya mengeluh, mengumpat, komplain kepada Sang Maha Kuasa, “Gue dulu dosa apa siih, Tuhan … . Hidup berat amat yee … .”

Printilan pun datang semakin banyak, dan nggak menyisakan ruang untuk komplain lagi. 

Rasanya capek lahir batin. Saking capeknya, saya nggak berdaya apa- apa lagi. Akhirnya, ya saya cuma bisa nerima. Kalau mengutip nasihat almarhum mbah wedok, “Lha isone nrimo, yo wis to, nduk.”

Akhirnya saya putuskan untuk berkata pada diri sendiri, 

“Adanya begini, ya hadapi saja. 

Selesaikan dengan jiwa besar. 

Ambil hikmahnya dan move on.”

Begitu saja terus siklusnya. 

.

.

.

Dan lalu, ketika tiba- tiba hujan deras diturunkan dari langit, saya nggak ngerasa apa- apa lagi. 🙂 

Bukan lantas saya mengecilkan atau menyepelekan bobot masalah. Tapi, ya saya sudah kenyang dihujani printilan gerimis kecil. Hujan masalah yang kemudian datang tiba- tiba, tidak lagi mengagetkan saya. 

Kalau sebelumnya saya hampir selalu bereaksi, “Lho kok?!” Sekarang saya cuma, “Oh.” 

Mindset saya sudah dibentuk oleh si gerimis menjadi, 

“Adanya begini, ya hadapi saja. 

Selesaikan dengan jiwa besar. 

Ambil hikmahnya dan move on.”

Begitu saja terus siklusnya. 🙂

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s