YTh. Pendeta X,

Saya hendak menuntaskan sampah-sampah yang menyumbat otak pasca percakapan via WhatsApp call dengan Anda, Rabu 21 November 2018 sekitar pukul 19. 15 WIB. 

Saya menghubungi Anda dengan niatan baik, menyampaikan keinginan saya untuk melanjutkan Kelas Liburan Jilid 2 untuk anak- anak di yayasan binaan Anda. Saya menanyakan, apakah saya bisa mengisi slot waktu sore seperti tahun sebelumnya. Dengan pertanyaan sesederhana itu, saya hanya mengharapkan jawaban ‘bisa‘ atau ‘tidak‘. Cukup. Kalau ‘bisa’ ya saya teruskan, kalau ‘tidak’ ya saya cari alternatif lain; entah mengubah jadwal atau mengubah konten program. 

Sungguh saya kemudian bingung, karena Anda justru berputar- putar dengan jawaban ‘saya kurang tahu’, ‘saya nggak tahu’ dan ‘anak-anak sudah belajar sendiri’.

Lalu saya permudah dengan mengajukan 3 tanggal: 18, 19 dan 20 Desember 2018. Saya meminta dengan sopan kalau Anda bisa membantu saya mengecek availability ketiga tanggal ini. Lalu Anda kembali berputar- putar dengan jawaban ‘ya nanti gampang lah’, ‘saya kan juga sibuk’ dan ‘anak-anak juga sibuk’.

Wah, bingung saya. Karena mengalokasikan 3 tanggal itu sama sekali bukan hal yang gampang untuk saya dan teman- teman volunteer. Itu komitmen yang kami sepakati dengan sungguh- sungguh. Ditengah kebingungan saya meng- appeal tanggal, Anda berkata, 

“Jangan cuma kelas-kelas saja! Jangan terlalu eman-eman memakai uangmu! Percuma kalau cuma kelas-kelas. Pakai uangmu untuk ngajak anak-anak pergi, bawa berenang, traktir makan!  Nggak usah nyebut- nyebut Tuhan lah, wong kita ini kan cuma digunakan sebagai objek.”

 

Wah, respon Anda kasar sekali. Mana diteriakkan tepat di kuping saya.

 

Saya jelaskan baik baik, bahwa saya tidak menjadikan siapapun sebagai objek, saya juga tidak pernah membawa- bawa panji keagamaan, dan sejatinya saya ini memang seorang pengajar. 

Untung sekali Anda lalu bilang,  “Ya sama seperti ketika saya mau ke Singapur dan sampeyan menjawab sibuk, ya saya juga sekarang sibuk.” 

 

OALAH …! Jadi inilah pangkal permasalahannya! Mutung! 😅

 

.

.

.

 

Baiklah, mari saya breakdown event- event saya dengan Anda. 

Saya mengenal Anda di awal Agustus 2017 lewat Facebook. Saya bertandang ke yayasan Anda diantar seorang teman untuk menyampaikan niat baik untuk mengadakan kelas liburan untuk anak- anak binaan Anda. Setelah ngobrol panjang lebar, akhirnya kita menyepakati 15, 16 dan 17 Juni 2017, pukul 4 hingga 6 sore. Saya melibatkan 6 orang teman saya untuk membantu. 

“Kelas Jaburan” menjadi judul kelas liburan yang saya usung karena waktunya memang bertepatan dengan bulan Ramadhan dan slot nya sore menjelang Maghrib berdekatan dengan jam buka puasa. Saya sudah merencanakan goodie bags berisi snacks dan tidbits untuk dibagikan seusai kelas, tapi Anda mengusulkan nasi kotak, menurut Anda, lebih mengenyangkan. Anda menawarkan jasa memasak salah satu warga dan saya tidak keberatan. Saya lalu mentransfer uang senilai Rp 2.000.000,00 untuk budget konsumsi ke rekening BCA Anda.  

 

“Garis bawahi ya, Anda memakai rekening pribadi untuk cash flow yayasan dan saya tidak mempermasalahkannya.”

 

Alasan Anda saat itu, “Dari awal, pelayanan ini memang saya kerjakan sendiri.” Fair enough karena saya juga bukan tipe orang yang mau ribet dengan administrasi. Dan saya memutuskan untuk percaya karena melihat track record ministry Anda.  

Ditengah- tengah obrolan kita, Anda menawarkan jasa tangan kanan Anda untuk mengantar saya berkeliling dan membuka pintu rumah Anda di daerah Cinde untuk saya inapi kapan saja saya butuh.  Kebetulan akomodasi saya sudah settled dan saya mengucapkan terimakasih atas tawaran Anda. Sebelum saya pulang, Anda juga menyebutkan, 

“Saya juga mau kok Mbak, diajak ke Singapur.” 

Saya sudah berkomitmen untuk datang sebagai volunteer, tidak lebih dan tidak kurang. Jadi saya tidak merasa perlu mengintepretasikan kalimat Anda ke ranah persuasif, meskipun saya merasa demikian. 

Kelas Jaburan diselenggarakan dan ditutup dengan baik. Anak- anak senang dan saya bahagia diberi kesempatan untuk membagi ilmu dengan mereka. Liburan saya telah usai dan saya terbang pulang ke Singapur. 

Seusai event itu, Anda beberapa kali mengechat saya dengan sangat casual seolah- olah kita sudah saling dekat satu sama lain. Anda juga memforward poster donasi dana melalui rekening BCA pribadi Anda via WhatsApp tanpa disertai kalimat pembuka maupun penutup, dan saya nggak keberatan untuk sekedar mengetik, “Terimakasih infonya, Pak,” meskipun Anda tidak membalas. 

Saya sih senang- senang saja dapet teman baru. Tapi saya pribadi menetapkan standard kesopanan tertentu dalam membalas chat Anda, karena saya menghargai Anda sebagai seorang pekerja Tuhan dan bapak dari 2 orang anak. Saya juga punya alasan sendiri kenapa saya tidak mendonasikan uang saya dan saya rasa Anda tidak perlu tahu. 

 

***

 

Berlanjut ke 30 January 2018 ketika Anda mengechat saya via Facebook Messenger. Anda menanyakan kehidupan sehari- hari di Singapur dan berlanjut meminta tolong saya untuk mengecek outlet sepatu boots New Rocks di Singapur. Saya browse di Google dan saya forward lokasinya untuk Anda. 

Anda lalu meminta saya untuk mengecek harga boots pria model NR329. Saya cek dan mendapati harga 291.70 Euro. Angka yang sangat mencengangkan untuk saya. Anda lalu meminta tolong saya untuk membelikan dahulu boots New Rocks dan men-shipping nya ke yayasan Anda di Semarang, dan Anda akan mengganti uang saya via bank transfer.

Seketika itu juga, saya sarankan lebih baik tidak. Saya pribadipun tidak berani mengambil resiko transaksi online untuk item semahal ini. Lalu Anda bertanya,

“Kalau misalnya aku kesana apa sampeyan bisa nganter saya mbak”

Nah, persis seperti itulah baris kalimat Anda. Lalu saya jawab, 

“Saya kuatir nggak bisa pak … . Tiap hari hari saya kerja dan kuliah. Udah nggak ada waktu untuk jalan .. “

Anda langsung end chat, “Ohya sudah terimakasih”

 

“Lho, kok mutung … .”

 

Entah bagaimana menjelaskannya, saya menangkap kekecewaan dari Anda, karena saya memilih untuk tidak cukup peka membelikan sepatu New Rock dan mengcover akomodasi rencana trip ke Singapur.

Terhitung dari event tersebut, saya masih 2x mengontak Anda via WhatsApp untuk menanyakan jumlah anak-anak di yayasan. Sejatinya, saya hendak mengirim es krim yang hanya enak dimakan seketika itu juga. Sayang sekali, chat saya hanya direward dengan 2 centang biru tanpa balasan. Akhirnya saya ganti menu ke Milo kotak. Saya meminta seorang teman di Semarang untuk mengirimken 2 karton Milo kotak 36×115 ml via Go- Send, tertanggal 24 Agustus 2018. 

Balik lagi, niat saya memang tulus ingin membagi ilmu yang saya punya untuk anak- anak di sanggar Anda. Jadi saya akan tetap kembali untuk anak- anak. Alhasil, terciptalah event WhatsApp call Rabu malam 21 November, seperti yang terketik di awal tulisan ini. 

 

***

 

YTh pendeta X, 

Pertama, Anda sudah membikin kesalahan besar dengan berpikir saya ’eman duit’ karena ‘cuma mau kelas- kelas saja’. Di telepon, Anda terlalu sibuk menembakkan amunisi untuk mengkondemnasi saya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan detail konten program kali ini. 

Kedua, Anda dan saya memiliki definisi berbeda tentang ‘eman duit’. Sekedar Anda tahu saja, fee mengajar saya selama 2 jam setara dengan harga 100 lembar tiket berenang di Pandanaran Hills Semarang. Itu baru saya saja ya, belum termasuk volunteer fotografer, komikus, financial advisors, florist, pebisnis kuliner dan kayu jati yang turut membantu Kelas Liburan.

 

“Waktu, tenaga dan pemikiran kami semua bisa diuangkan, tapi kami memilih untuk membaginya cuma- cuma dengan anak- anak di yayasan Anda.”

 

Ketiga, kekecewaan Anda karena saya ‘tidak mau nganter Anda’ adalah berlebihan. Sah- sah saja kalau Anda pribadi menetapkan standar hospitality untuk ‘tamu- tamu’ Anda, tapi bukan berarti orang lain juga harus begitu. Anda tidak tahu sesibuk apa dan sepadat apa jadwal saya. Tau- tau mutung. Bijaksana sekali. 

 

***

 

Pendeta X, 

Anda perlu belajar menghargai kepedulian orang lain di luar circle Anda. Hanya karena Anda peduli dengan sepatu New Rock, bukan berarti orang lain juga sama.

 

Anda tahu cara menggunakan internet dan capable untuk fund transfer via online. Tapi Anda memilih untuk mengechat saya. 🙂

 

Dengan independensi menjangkau kaum marginal dan antipati terhadap institusi gereja yang Anda gembar- gemborkan di Facebook, tak diragukan bahwa survival skill Anda sangatlah mumpuni. Jadi, Anda pasti bisa berkeliling Singapur tanpa saya. 🙂 

Anda juga perlu belajar memisahkan konflik pribadi dan ministry, mana yang berkenaan dengan profit pribadi Anda dan yang seharusnya menjadi hak anak- anak binaan Anda. Terlepas dari Anda suka atau tidak, secara tidak langsung, Anda telah menutup akses anak- anak untuk mendapatkan pengajaran dari saya dan teman- teman volunteer. 

Di setiap kali saya mengontak Anda, selalu tentang voluntary work atau pertanyaan tentang anak- anak di sanggar. Sebaliknya, di setiap kali Anda mengechat saya, selalu tentang urusan pribadi yang tidak ada kaitannya dengan interest saya terhadap mengajar anak- anak di sanggar. Dari sinipun sudah jelas, sebenarnya siapa ingin apa dari siapa, dan siapa yang menjadikan siapa sebagai objek. 

 

“Listen X, I do not against branded items. But if I do want it, I must earn it and not getting it by making use of people’s money and their good intentions.”

 

Akhir kata, sebaiknya Anda tidak memelintir kalimat- kalimat saya, karena persis seperti itulah yang Anda ketik di chat thread. Saya bukan tipe yang hobi screen shot, tapi saya bisa melakukannya saat diperlukan. 

– Sekian –

2 thoughts on “

  1. Banyak org hidup di dalam kepentingan , banyak hal dalam hidup mereka jalankan sesuai kepentingan mereka sesaat tanpa memikirkan kepentingan yg lebih besar.
    Sayang sekali…… ☹☹☹☹☹

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.